Nah, di sinilah masalahnya. Menurut Manohara, istilah ‘mantan istri’ itu punya implikasi kuat: seolah-olah ada hubungan yang sah, sukarela, dan dijalani oleh dua orang dewasa. Padahal, realitasnya sama sekali berbeda.
“Ini membingkai ulang situasi paksaan sebagai hubungan yang sah dan mendistorsi realitas dari apa yang terjadi,” ungkapnya. Kata-kata, bagi dia, punya daya rusak yang nyata.
Karena itulah, dia secara khusus menyasar media. Manohara meminta kepada redaksi, penulis, hingga platform digital besar seperti Google dan Wikipedia untuk menghentikan penggunaan label tersebut untuk dirinya.
“Terus menerbitkan artikel dengan penggambaran yang salah ini bukan hanya tidak akurat, tapi juga merupakan jurnalisme yang tidak etis,” katanya.
“Permintaan ini bukan tentang mengungkit masa lalu, ini tentang keakuratan, etika, dan penggunaan bahasa serta konteks yang bertanggung jawab. Penggunaan bahasa yang hati-hati itu penting, karena kata-kata memiliki konsekuensi,” sambung Manohara.
Dia menutup dengan pesan yang lebih luas: “Para penyintas berhak agar kisah mereka diceritakan dengan jujur dan bermartabat.”
Pesan itu jelas. Ini bukan sekadar protes, tapi upaya untuk mengembalikan narasi yang benar-benar sesuai fakta, setidaknya dari sudut pandangnya.
Artikel Terkait
Pidie Jaya Terendam Lagi, Warga Minta Normalisasi Sungai Segera Dikerjakan
Swasembada Pangan 2025: Tonggak Kedaulatan di Tengah Perang Global Pangan dan Energi
Kejagung Turun Tangan, Data Perubahan Fungsi Hutan Diperiksa
Angin Kencang dan Hujan Deras Robohkan Lima Rumah di Tambakrejo