Prabowo Soroti 15 Kendala Teknis, Minta Program Makanan Gratis Zero Defect

- Selasa, 06 Januari 2026 | 21:40 WIB
Prabowo Soroti 15 Kendala Teknis, Minta Program Makanan Gratis Zero Defect

Presiden Minta Perbaikan Prosedur Program Makanan Gratis

Di Hambalang, Bogor, Selasa (6/1/2026) lalu, Presiden Prabowo Subianto punya pesan tegas. Ia meminta peningkatan disiplin prosedur teknis untuk program Makan Bergizi Gratis (MBG). Tujuannya jelas: meminimalisir persoalan di lapangan. Permintaan ini secara khusus ditujukan kepada Badan Gizi Nasional (BGN) agar program yang sudah berjalan ini bisa benar-benar optimal dirasakan masyarakat.

Menurut Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi, Prabowo menaruh perhatian serius pada kendala teknis yang masih muncul. Terutama catatan untuk bulan Desember 2025 lalu.

"Beliau menghendaki untuk disiplin prosedur itu ditingkatkan. Karena menurut catatan dari Kepala BGN, di bulan Desember masih ada kurang lebih 15 kejadian, dan Bapak Presiden meminta semaksimal mungkin hal-hal seperti ini tidak boleh lagi terjadi,"

kata Prasetyo usai mengikuti Taklimat Awal Tahun.

Soal anggaran? Prasetyo menegaskan tidak ada masalah. Pemerintah bahkan sudah mengalokasikan dana yang sangat besar untuk tahun ini demi keberlanjutan MBG.

“Untuk tahun 2026 sudah dialokasikan kurang lebih Rp335 triliun dalam APBN untuk program Makan Bergizi Gratis,”

ujarnya.

Di sisi lain, capaian program ini sebenarnya cukup fenomenal. Presiden Prabowo menyebut hingga Januari 2026, manfaat MBG telah dirasakan sekitar 55 juta anak-anak dan ibu hamil di seluruh Indonesia. Angka yang, menurutnya, membanggakan.

Bandingkan saja dengan Brasil. Negara itu butuh waktu 11 tahun untuk menjangkau sekitar 40 juta penerima manfaat dalam program serupa. Kita? Hanya satu tahun.

“Kita satu tahun sudah 55 juta penerima manfaat. Apakah ada kekurangan? Ada. Dalam usaha manusia sebesar ini pasti ada kekurangan,”

kata Prabowo dengan nada realistis.

Memang, ia mengakui masih ada celah. Tapi tingkat keberhasilan program saat ini disebutnya sudah mencapai 99,99 persen. Namun begitu, pemerintah ditegaskan tidak boleh cepat puas.

“Karena itu kita harapkan zero defect. Itu yang harus kita capai. Kita tidak puas. Dengan kekurangan nol koma nol sekian itu pun bagi kita sesuatu yang harus kita atasi, dan Alhamdulillah, kita sudah mengatasi dan akan terus kita atasi,”

tegasnya. Targetnya jelas: sempurna, tanpa cacat.

Editor: Novita Rachma

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar