Celurit Mengintai di Lapangan Kampus, Mahasiswi Pontianak Jadi Korban

- Senin, 01 Desember 2025 | 13:36 WIB
Celurit Mengintai di Lapangan Kampus, Mahasiswi Pontianak Jadi Korban

Hi!Pontianak – Lingkungan kampus Politeknik Negeri Pontianak di Jalan Ahmad Yani diguncang aksi nekat pada Minggu, 9 November 2025. Seorang mahasiswi menjadi korban. Saat itu, dia sedang duduk sendirian di lapangan hijau.

Tanpa diduga, seorang pria mendekatinya dari belakang. Dengan cepat, dia mengalungkan celurit ke leher korban. Ujung senjata tajam itu bahkan dimasukkan ke mulut sang mahasiswi, hingga melukai bibir dan jari tengah tangan kanannya. Dalam ketakutan, korban tak bisa berbuat banyak. Pelaku lalu merampas ponselnya dan kabur begitu saja.

Kapolsek Pontianak Selatan, AKP Inayatun Nurhasanah, menjelaskan kronologi kejadian itu pada Senin, 1 Desember 2025.

“Korban sedang duduk dilapangan hijau, pelaku belakang dari belakang mengalungkan celurit ke leher korban dan ujung nya dimasukkan ke mulut hingga melukai bibir serta jari tengah tangan kanan. Pelaku kemudian merampas HP dan langsung melarikan diri,”

Kerugian material yang dialami korban tak sedikit, diperkirakan mencapai Rp 3,5 juta. Namun begitu, yang lebih dalam adalah trauma dan rasa aman yang hilang.

Penangkapan pelaku, seorang pria berinisial DI (21), baru bisa dilakukan beberapa hari kemudian. Informasi mengalir pada Jumat malam, 28 November sekitar pukul 23.00 WIB. Tim Macan Selatan mendapat laporan bahwa terduga pelaku sedang berada di Coffee Tumbuh, Jalan Gusti Hamzah.

“Tim segera menuju lokasi dan melakukan pengintaian, kemudian berhasil menangkap terduga pelaku,” tambah AKP Inayatun.

“Setelah dilakukan penggeledahan dan interogasi awal, terduga mengakui perbuatannya. Selanjutnya, Tim Macan Selatan membawa terduga pelaku ke Mapolsek Pontianak Selatan,”

Kini, kasus ini sedang diproses lebih lanjut. Polisi menjerat pelaku dengan Pasal 365 KUHP tentang pencurian dengan kekerasan. Sebuah pasal yang ancamannya tak main-main, tentu saja.

Aksi brutal di kawasan kampus itu meninggalkan keprihatinan mendalam. Banyak yang bertanya-tanya, bagaimana mungkin rasa aman bisa hilang di tempat yang seharusnya menjadi ruang belajar yang nyaman.

Editor: Handoko Prasetyo

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar