Solidaritas di Trotoar Jakarta: Suara untuk Venezuela Bergema dari Jauh

- Selasa, 06 Januari 2026 | 17:25 WIB
Solidaritas di Trotoar Jakarta: Suara untuk Venezuela Bergema dari Jauh

Angin sore di Jakarta terasa lembap dan berat. Tepat di seberang gedung putih Kedutaan Besar Amerika Serikat, tangan-tangan mulai mengangkat spanduk. Suara-suara menggema, meski tenggorokan terasa kering. Tanggal 6 Januari 2026. Nama Venezuela disebut bukan sebagai berita dari belahan dunia lain, tapi seperti luka yang akrab. Ribuan mil dari Caracas, sekelompok orang Indonesia berkumpul. Mereka bukan politisi. Mereka aktivis, buruh, ibu-ibu, anak muda. Mereka punya cerita panjang tentang apa artinya melawan.

Pukul tiga, kerumunan sudah padat. Orator bergantian naik. Kata-kata yang terlontar tajam dan tanpa basa-basi. Di spanduk putih, tulisan hitam menuntut: "Hentikan Serangan Militer Amerika Serikat. Hormati Kedaulatan Politik Rakyat Venezuela."

Menurut dokumen yang mereka bagikan, aksi ini adalah bentuk kecaman keras. Mereka menuding pemerintahan Donald Trump melancarkan serangan militer, menculik Presiden Nicolas Maduro beserta istrinya Cilia Flores, dan berencana mengambil alih kekuasaan. Bagi mereka, ini bukan pelanggaran politik biasa. Ini pengingkaran terang-terangan terhadap Piagam PBB, terhadap prinsip paling dasar tentang perdamaian dan hak sebuah bangsa untuk menentukan nasibnya sendiri.

Seorang perempuan dari Perempuan Mahardhika, yang enggan namanya disebut, bercerita dengan tatapan kosong menerawang.

"Kami lahir dari rahim perjuangan yang sama. Melawan kolonialisme, melawan imperialisme," ujarnya.

Dia mengingatkan pada Konferensi Asia Afrika 1955 yang digagas Indonesia. Forum itu, katanya, adalah bukti nyata komitmen bangsa-bangsa terjajah untuk menolak dominasi asing. Venezuela hari ini, dalam pandangan mereka, adalah cermin dari Indonesia di masa lalu. Embargo, agresi militer, campur tangan politik semua itu bentuk kekerasan struktural yang dulu juga merobek-robek kedaulatan negeri ini.


Halaman:

Komentar