Nah, etika di ruang publik sekarang ini nggak cuma soal aturan. Bukan cuma larangan atau ancaman hukum. Ia hidup di tempat yang lebih sunyi: di kesadaran batin kita. Ia soal kemampuan nahan diri. Soal kebijaksanaan untuk nggak selalu bereaksi. Bahkan, soal keberanian buat nggak ikut-ikutan, meskipun semua orang lagi ramai-ramainya.
Banyak hal yang secara hukum nggak salah, tapi tetap aja keliru secara etika. Merekam orang asing seenaknya. Ngomentarin penampilan atau pilihan hidup orang. Bawa urusan privat ke medsos tanpa pikir panjang dampaknya. Secara teknis sih boleh-boleh aja. Tapi secara nurani? Kosong.
Dari ngopi pagi ini, saya jadi mikir. Mungkin masalah kita bukan kurang etika, tapi kelebihan ego. Kita kebanyakan ingin diakui, pengen selalu benar, pengen terus dilihat. Padahal, ruang publik nggak pernah dimaksudin buat memuaskan ego satu-satu orang. Ia ada supaya kita bisa hidup bareng, saling jaga, saling menghargai.
Jadi manusia yang beradab di era medsos itu pilihan yang makin mahal harganya. Ia nggak janjiin keuntungan instan. Nggak bikin viral. Nggak selalu dapet pujian. Justru di situlah nilai sebenarnya. Di kemampuan buat bilang, "udah, cukup". Di kebijaksanaan buat nolak, "nggak perlu disebarin". Di kesadaran bahwa nggak semua hal harus jadi konsumsi publik.
Mungkin, kita perlu definisi ulang soal etika ini. Bukan sebagai pagar pembatas kebebasan, tapi lebih sebagai penuntun agar kita tetap manusiawi. Bukan aturan kaku, melainkan kompas dari dalam. Biar kita ingat, bahwa sebelum jadi pengguna Instagram atau Twitter, kita ini manusia punya perasaan, punya batas, dan punya tanggung jawab.
Ngopi pagi ini akhirnya berujung pada satu kesimpulan yang sederhana: ruang publik baik yang nyata maupun yang digital akan tetap aman kalau kita bawa etika ke mana pun kita pergi. Bukan karena takut dihukum, tapi karena sadar bahwa dunia ini nggak cuma berputar di sekitar kita.
Dan barangkali, di tengah riuh rendahnya dunia digital, etika adalah bentuk keheningan yang paling revolusioner.
Artikel Terkait
Perselingkuhan Berulang: Kapan Batas Kesabaran dalam Rumah Tangga?
Prabowo Tegaskan Bonus Rp 456 Miliar untuk Atlet SEA Games Bukan Upah, Melainkan Tabungan Masa Depan
Perutmu Bisa Jadi Korban dari Terlalu Banyak Baca Berita Politik
Sepuluh Hari Terendam, Pengungsi Banjar Masih Bergantung pada Jadwal Makan Tak Pasti