Ketiga, kita harus fokus menciptakan lapangan kerja yang berkualitas. Pertumbuhan ekonomi itu bagus, tapi yang lebih penting adalah kualitas pekerjaan yang dihasilkan. Upah yang manusiawi, jam kerja wajar, dan jaminan sosial adalah hal mendasar. Sektor informal dan gig economy perlu diatur agar tak menjadi ladang eksploitasi baru.
Keempat, kebijakan ketenagakerjaan harus bisa melindungi pekerja muda. Fleksibilitas di era digital itu penting, tapi jangan sampai mengorbankan rasa aman. Negara harus hadir untuk memastikan akses kesehatan dan perlindungan hukum bagi semua pekerja, di sektor manapun.
Kelima, dukungan untuk kewirausahaan harus realistis. Tidak semua anak muda cocok jadi pengusaha. Daripada memaksa, lebih baik sediakan akses modal, pendampingan, dan pasar yang jelas bagi mereka yang memang punya bakat dan minat. Jangan cuma berhenti di seminar motivasi.
Keenam, pemerataan pembangunan mutlak diperlukan. Selama kesempatan kerja hanya terkonsentrasi di kota-kota besar, anak muda dari daerah akan terus terpaksa urbanisasi. Investasi dan pusat ekonomi baru harus disebar untuk membuka peluang di berbagai wilayah.
Dan yang terakhir, yang paling krusial: libatkan anak muda dalam merancang kebijakan untuk mereka. Dengarkan suara dan pengalaman langsung mereka di lapangan. Kebijakan yang dibuat dari menara gading hanya akan gagal menyentuh akar persoalan.
Pada akhirnya, semua ini butuh keberanian politik. Hasilnya mungkin tidak instan dan penuh tantangan. Tapi masa depan bangsa ini sedang dipertaruhkan. Bonus demografi bukan sekadar angka statistik untuk dibanggakan dalam pidato. Ia adalah amanah.
Anak muda sebenarnya tidak menuntut banyak. Mereka hanya menginginkan kesempatan yang adil untuk bekerja keras, berkembang, dan hidup layak dari keringat mereka sendiri. Kalau negara bisa menyediakan itu, bonus demografi akan menjadi kekuatan dahsyat. Tapi kalau tidak? Kita semua akan menyaksikan sebuah peluang emas yang terbuang percuma.
Bagaimana menurut Anda?
(ed/jaksat-am)
Artikel Terkait
Prabowo Tegaskan Bonus Rp 456 Miliar untuk Atlet SEA Games Bukan Upah, Melainkan Tabungan Masa Depan
Perutmu Bisa Jadi Korban dari Terlalu Banyak Baca Berita Politik
Sepuluh Hari Terendam, Pengungsi Banjar Masih Bergantung pada Jadwal Makan Tak Pasti
Golkar Tegaskan Pilkada Lewat DPRD Bukan Kembali ke Orde Baru