Soal pasal penghinaan terhadap presiden dan wakil presiden dalam KUHP belakangan ramai diperbincangkan. Pemicunya sederhana: maraknya meme dan stiker bergambar pemimpin negara yang beredar di grup-grup percakapan. Pemerintah pun merasa perlu memberi penjelasan.
Menurut Menteri Hukum dan HAM Supratman Andi Agtas, saling kirim stiker sebenarnya sah-sah saja. Asal tujuannya untuk mengkritik, bukan menampilkan gambar-gambar yang dianggap tidak senonoh atau melanggar kesusilaan.
Ucap Supratman di Kantor Kemenkumham Jakarta, Senin lalu.
Politikus Gerindra ini berusaha menenangkan. Meski aturannya jelas tercantum dalam KUHP yang baru, hal itu sama sekali tidak berarti pemerintah jadi anti kritik. “Sampai hari ini pun juga pemerintah sampai saat ini ya saya rasa belum pernah ada satu pun langkah yang diambil yang terkait dengan hal-hal yang terkait dengan kritik, enggak pernah ada,” tegasnya.
Namun begitu, ada garis yang menurutnya tidak boleh dilangkahi.
Artikel Terkait
Prabowo Siapkan Kenaikan Gaji Hakim Ad Hoc, Besaran Masih Dihitung
Rajab dan Kesalehan yang Lupa Menjaga Bumi
Mutiara dari Timur: Bahlil Lahadalia Tersipu Saat Dijuluki Kolega di Acara Natal Nasional
Hakim Terkejut, Gaji Konsultan Nadiem Tembus Rp 163 Juta per Bulan