Venezuela Tercekik: Minyak Berlimpah Berujung Utang Rp 2.400 Triliun

- Senin, 05 Januari 2026 | 16:20 WIB
Venezuela Tercekik: Minyak Berlimpah Berujung Utang Rp 2.400 Triliun

Utang ini bukan cuma milik pemerintah. Perusahaan minyak PDVSA juga punya andil besar, plus ada tunggakan bunga, klaim hukum lama, dan kompensasi penyitaan aset. Benar-benar ruwet.

Lalu, siapa saja krediturnya? Di satu sisi, ada investor obligasi internasional dan apa yang disebut ‘dana pemangsa’. Mereka membeli utang Venezuela saat harganya terjun bebas di tengah krisis, tentu saja dengan harga murah. Di sisi lain, ada raksasa energi seperti ConocoPhillips dan Crystallex. Mereka memenangkan gugatan arbitrase internasional setelah asetnya dinasionalisasi di era Chavez-Maduro.

Aset paling panas yang jadi rebutan adalah CITGO. Kilang minyak milik Venezuela yang berbasis di AS ini jadi sasaran empuk para kreditur lewat pengadilan Amerika. Nilai klaim yang menumpuk jauh melampaui nilai asetnya sendiri. Jelas, tak semua pihak akan dibayar lunas.

Masalahnya, sanksi AS sejak 2017 bikin restrukturisasi utang jadi mimpi di siang bolong. Venezuela tak bisa terbitkan obligasi baru atau nego ulang utang tanpa izin khusus dari Departemen Keuangan AS. IMF pun tak bisa masuk karena hubungan dengan Caracas sudah putus bertahun-tahun.

Jadi, meski ada banyak ide seperti pemotongan pokok utang 50%, pembayaran 20 tahun, atau mengaitkan cicilan dengan harga minyak semuanya masih teoritis. Selama politik dan sanksi tak berubah, semuanya mentok di wacana.

Yang menarik, pasar utang malah sudah mulai berpesta lebih awal. Obligasi Venezuela yang pernah nyaris tak bernilai, kini diperdagangkan sekitar 27 sampai 32 sen per dolar. Spekulan bertaruh bahwa perubahan politik dan tekanan AS akan membuka jalan untuk pembayaran kembali.

Tapi realitanya pahit. Ekonomi Venezuela masih sangat lemah. Pendapatan dari minyak terbatas. Aset-asetnya habis diperebutkan di pengadilan. Singkat kata, ini bukan lagi cerita tentang menyelamatkan Venezuela. Ini lebih seperti perlombaan serakah: siapa yang bisa menggasak sisa-sisa kas negara yang sekarat ini paling cepat.

Penulis adalah analis internasional dari Malaysia.


Halaman:

Komentar