Di hari kesembilan, pencarian yang melelahkan di perairan Labuan Bajo akhirnya membuahkan hasil. Tim gabungan berhasil menemukan jenazah pria yang mengenakan celana berwarna oranye di sekitar Selat Padar, Minggu (4/1) pagi tadi. Dari identifikasi awal, korban adalah Fernando Martin Carreras, pelatih tim B sepakbola wanita klub Valencia CF asal Spanyol.
"Iya, jenazah Fernando Martin Carreras ditemukan. Ini dari identifikasi awal dengan ciri-ciri yang ada,"
kata Kabid Humas Polda NTT, Kombes Pol Henry Novika Chandra, saat dikonfirmasi.
Menurutnya, pendamping keluarga juga sudah memastikan bahwa itu adalah jasad Fernando. Saat ini jenazah sedang menjalani pemeriksaan dan identifikasi lebih lanjut di RSUD Komodo untuk kepastian hukum.
Kisah nahas ini berawal pada Jumat (26/12) malam. Kapal wisata KM Putri Sakinah yang membawa 11 orang tenggelam di perairan Pulau Padar, Labuan Bajo, NTT. Kapal itu dilaporkan mengalami mati mesin di tengah perjalanan dari Pulau Komodo menuju Pulau Padar, sebelum akhirnya hilang di balik gelombang.
Dari sebelas orang di atas kapal, tujuh berhasil selamat. Mereka adalah istri Fernando, Andrea, beserta seorang anak perempuan lainnya, empat kru kapal, dan satu pemandu wisata. Namun, nasib malang menimpa Fernando dan ketiga anaknya. Keempat warga Spanyol itu hilang dan menjadi target pencarian utama.
Operasi SAR gabungan pun digelar tanpa henti. Mereka menyisir perairan dengan berbagai armada, dari Kapal RIB Pos SAR hingga kapal milik kepolisian. Upaya itu tak sia-sia.
Sebelum Fernando ditemukan, tim sudah berhasil menemukan jenazah salah satu anaknya pada Senin (29/12) lalu. Penemuan itu berkat laporan warga setempat, Nasaruddin, yang melihat jenazah mengambang di pinggir perairan utara Pulau Serai.
"Kami menerima informasi dari warga Pulau Serai Labuan Bajo, Bapak Nasaruddin, yang melihat satu jenazah mengambang,"
jelas Kepala Kantor SAR Maumere, Fathur Rahman, yang bertindak sebagai koordinator misi.
Artinya, hingga hari kesembilan ini, sudah dua korban yang berhasil dievakuasi. Fernando dan seorang anaknya. Namun, dua anak lainnya Mateo dan Enriquejavier masih belum ditemukan. Pencarian terus dilanjutkan, meski harapan semakin tipis.
Labuan Bajo, kota kecil di Flores Barat yang biasanya ramai dengan turis yang ingin melihat komodo, kini menyimpan duka yang dalam. Peristiwa ini menjadi pengingat betapa laut yang mempesona bisa berubah tak bersahabat dalam sekejap.
Artikel Terkait
Catatan Harian Ungkap Jaringan Dakwah Ulama Sulsel KH Ahmad Surur
Anggota DPR Desak Penyelidikan Kasus Sea Dragon Sampai ke Aktor Intelektual
Dua Perwira Polres Toraja Utara Ditahan Terkait Dugaan Jaringan Narkoba
Bandara Koroway Batu Beroperasi Kembali dengan Pengamanan Ketat Pasca Insiden Penembakan Pilot