Sabtu lalu, di kanal YouTube milik Mahfud MD, ada perbincangan yang cukup hangat. Profesor Nadirsyah Hosen, atau yang akrab disapa Gus Nadir, duduk santai bercerita. Dia seorang dosen hukum konstitusi di Melbourne Law School, Australia. Yang menarik? Latar belakang pendidikannya. Gus Nadir sama sekali tidak menempuh S1 hukum di sana. Dia justru lulusan IAIN Syarif Hidayatullah, yang sekarang jadi UIN Jakarta.
Jalan hidupnya ternyata dipengaruhi pesan mendalam dari sang ayah, Prof. Ibrahim Hosen.
Nasihat itulah yang dipegangnya. Tapi tentu, perjalanannya tidak mulus. Dia mengaku sempat "jungkir balik" di awal-awal mengajar. Sistem hukumnya beda. Indonesia menganut civil law, sementara Australia common law. Untuk sekadar menyebut nama hakim-hakim di sana saja, Gus Nadir harus bolak-balik bertanya pada koleganya setiap pagi sebelum masuk kelas. Rasanya seperti mulai dari nol.
Namun begitu, kerja kerasnya membuahkan hasil yang nyata. Setelah dua puluh tahun mengabdi, dia bukan cuma mengajar. Gus Nadir berhasil memasukkan mata kuliah Hukum Islam ke dalam kurikulum fakultas hukum terbaik di Australia dan peringkat 10 dunia itu. Sebuah pencapaian yang dulu mungkin sulit dibayangkan.
Di sisi lain, Prof. Mahfud MD yang hadir dalam obrolan itu mengamati perubahan besar.
Dulu, kata Mahfud, santri sering dipandang sebelah mata. "Dianggap manusia kelas dua," ujarnya. Perannya seolah hanya sebatas membaca doa dalam acara-acara resmi.
Artikel Terkait
Tiang Monorel Rasuna Said Akhirnya Dibongkar, Warga: Sudah Lama Jadi Ancaman
Video Call Berdarah: Ayah Politikus Saksikan Putranya Tewas dari Kantor
Tim RSIB Bangun Hunian Darurat untuk Korban Banjir Aceh Tamiang
Surat Jampidsus yang Dipertanyakan: Saham Jiwasraya Rp377 Miliar Raib dari Sitaan Negara