Lempar Handuk Putih, Apa Nanti Bakal Menyusul Lempar Kain Kafan?
Oleh: Tardjono Abu Muas
Pemerhati Masalah Sosial
Sudah dua pekan lebih. Banjir bandang disertai longsor yang menggulung kayu-kayu gelondongan itu masih menyisakan nestapa. Tiga wilayah Aceh, Sumut, Sumbar terluka. Korban jiwa yang dikabarkan berjatuhan nyaris menyentuh angka seribu. Bukan sekadar angka statistik yang dingin.
Yang lebih memilukan justru kondisi para penyintas. Di sejumlah titik, mereka masih terisolasi. Jalan putus, jembatan hilang, akses terputus sama sekali. Ada kekhawatiran serius: ancaman kelaparan mengintai di tengah reruntuhan. Bencana ini memang tak main-main, ia menghancurkan hampir semua infrastruktur yang ada.
Mungkin karena kerusakannya begitu parah dan luas, tekanan di lapangan pun tak tertahankan. Alhasil, beberapa bupati di Aceh mengambil langkah simbolis yang cukup mengejutkan. Mereka melempar handuk putih. Isyarat klasik itu jelas: mereka angkat tangan, mengaku tak sanggup lagi menangani krisis sendirian.
Nah, setelah lemparan handuk itu, situasinya malah makin suram. Bantuan pokok makanan, air, obat-obatan masih belum pasti sampai ke tangan warga. Ketidakpastian ini bikin semua orang cemas. Kekhawatiran akan kelaparan massal bukan lagi omong kosong, tapi ancaman yang sangat nyata dan makin mendekat.
Bayangkan jika kondisi terus memburuk. Saat rasa lapar tak lagi bisa ditahan, saat harapan menipis. Kita semua berdoa, semoga tidak sampai pada titik di mana warga yang putus asa itu merintih dan berteriak, meminta sesuatu yang lebih mengerikan: agar dilemparkan kain kafan saja untuk mengubur mereka yang tak tertolong. Na'udzubillah min dzalik.
Artikel Terkait
Polda Jatim Ungkap 3.157 Kasus Narkoba dalam Enam Bulan, Sita 22 Kg Kokain dari Jaringan Internasional
Residivis Bebas Bersyarat Kembali Ditangkap usai Perkosa Mahasiswi di Kulonprogo
Pria Nekat Panjat Tower 52 Meter di Bandar Lampung, Dievakuasi Usai Negosiasi 2 Jam
Mahfud MD Soroti Penahanan Roy Suryo dan dr. Tifa: Publik Pertanyakan Eksekusi Vonis yang Tak Jalan