Mungkin karena kerusakannya begitu parah dan luas, tekanan di lapangan pun tak tertahankan. Alhasil, beberapa bupati di Aceh mengambil langkah simbolis yang cukup mengejutkan. Mereka melempar handuk putih. Isyarat klasik itu jelas: mereka angkat tangan, mengaku tak sanggup lagi menangani krisis sendirian.
Nah, setelah lemparan handuk itu, situasinya malah makin suram. Bantuan pokok makanan, air, obat-obatan masih belum pasti sampai ke tangan warga. Ketidakpastian ini bikin semua orang cemas. Kekhawatiran akan kelaparan massal bukan lagi omong kosong, tapi ancaman yang sangat nyata dan makin mendekat.
Bayangkan jika kondisi terus memburuk. Saat rasa lapar tak lagi bisa ditahan, saat harapan menipis. Kita semua berdoa, semoga tidak sampai pada titik di mana warga yang putus asa itu merintih dan berteriak, meminta sesuatu yang lebih mengerikan: agar dilemparkan kain kafan saja untuk mengubur mereka yang tak tertolong. Na'udzubillah min dzalik.
Artikel Terkait
Drama dan Kebaikan di Balik Sesaknya Gerbong KRL
Polairud Buka Jalur Pelayaran Muara Angke yang Tersumbat
Prasetyo Bantah Isu Pertemuan Prabowo dengan Oposisi
Restoran Keluarga dan Luka Masa Lalu: Kisah Cinta Kedua di Predestined Love