Gunung Tangkuban Perahu punya cara unik untuk memanggil siapa saja yang haus cerita. Terutama anak muda yang ingin petualangan yang jujur, bukan sekadar foto. Di sini, yang ditawarkan bukan cuma pemandangan kawah legendaris, tapi juga sebuah perjalanan yang sarat rasa, penuh pertemuan, dan makna.
Nah, kalau dari Jalan Raya Cisarua, sebenarnya ada tiga opsi untuk mencapai puncak. Bisa lewat hutan Jayagiri, atau melalui hutan Sukawana. Opsi ketiga? Ya, naik kendaraan langsung lewat jalan raya dari Lembang. Gampang sih, tapi rasanya seperti cuma baca sinopsis novel petualangan. Mana seru?
Kami memilih Trek Sukawana. Banyak yang bilang, ini jalur paling ramah untuk pendaki pemula. Tapi menurut kami, jalur ini justru yang paling "hidup" ceritanya. Seperti kata seorang kawan sebelum berangkat, "Kalau mau cepat, naik mobil. Kalau mau cerita, pakai kaki." Nasihat itu yang akhirnya kami pegang.
Perjalanan menuju gerbang pendakiannya saja sudah seperti sebuah prolog yang menegangkan. Dari Cisarua, kami masuk ke kawasan Vila Istana Bunga, lalu menyusuri Jalan Sukawana yang makin lama makin sempit. Aspal halus perlahan menghilang, berganti batu-batu tajam yang memaksa kendaraan kami merangkak pelan. Mesinnya seperti mengeluh, seolah bilang, "Santai saja, aku juga butuh napas."
Jalan itu mengajarkan satu hal: alam tak bisa ditaklukkan dengan tergesa-gesa. Setelah perjuangan kecil itu, akhirnya gerbang pendakian muncul. Sederhana, tapi terasa seperti pintu masuk ke dunia lain.
Kami registrasi dan bayar biaya masuk yang cukup terjangkau, plus biaya parkir. Suasana di gerbang hangat, beberapa pendaki lain juga sedang bersiap-siap. Kami buka ransel, cek ulang jaket, jas hujan, air minum, sampai camilan. Peta pendakian kami abadikan di ponsel kompas modern zaman sekarang.
Di dekat gerbang, ada papan peraturan yang berdiri tegak. Isinya sih biasa: wajib daftar, jaga kesehatan, pakai alas kaki yang layak, jangan buang sampah sembarangan. Tapi bahasanya tidak kaku, lebih mirip nasihat dari orang tua yang peduli. Gunung ini ramah, tapi dia juga punya batasan yang tak boleh dilanggar.
Langkah pertama terasa ringan. Jalur awalnya mempertontonkan pemandangan yang kontras tapi harmonis. Di kanan, hutan pinus berdiri rapi bagai barisan penjaga yang sunyi. Di kiri, hamparan kebun teh hijau bergelombang seperti permadani alam. Batang-batang pinus mati yang masih berdiri di tengah kebun teh menambah kesan dramatis. Sepanjang jalan, kicauan berbagai burung ciblek, prenjak, pritgantil menjadi soundtrack alami perjalanan kami.
Tanah jalurnya dipenuhi akar-akar kecil yang melintang, justru membantu agar tak mudah terpeleset. Udara sejuk menyusup ke dada, bikin napas terasa enteng.
Setelah sekitar sejam berjalan, sampailah kami di Pos 2. Tempat ini terasa hidup. Ada warung sederhana yang jual mie instan panas, air kelapa, kopi, dan jeruk peras. Asap dari rebusan mie mengepul, seperti sinyal kehangatan di tengah dinginnya hutan.
Kami duduk, lepas ransel, dan memandang ke kejauhan. Dari sini, Kota Bandung terlihat jelas membentang seperti miniatur raksasa. Gedung-gedung dan jalanan tampak kecil, membuat segala masalah di bawah sana pun ikut mengecil.
"Naik gunung selalu bikin kita merasa setara," ucap seorang pendaki yang ikut beristirahat. Kami cuma bisa mengangguk setuju.
Artikel Terkait
Kredit Bank Melonjak 9,3% di Akhir 2025, Investasi dan Properti Jadi Pendorong
Jaecoo J5 Mulai Dirakit Lokal, Pemesanan Tembus 10.000 Unit
Sabtu Mendatang, Jabodetabek Diselimuti Awan Tebal dan Potensi Hujan Disertai Petir
Emas Diprediksi Tembus Rp2,8 Juta per Gram, Menuju Rekor 10.000 Dolar AS