Operasi Militer AS di Caracas: Maduro Ditangkap dan Dibawa ke Penjara New York

- Senin, 05 Januari 2026 | 03:36 WIB
Operasi Militer AS di Caracas: Maduro Ditangkap dan Dibawa ke Penjara New York

Lantas, atas dasar apa AS bertindak? Jaksa Agung AS, Pam Bondi, membeberkan sejumlah dakwaan berat terhadap Maduro melalui unggahan di X pada Sabtu (3/1). Daftarnya panjang: Konspirasi Narkoterorisme, Konspirasi Impor Kokain, hingga Kepemilikan Senapan Mesin dan Alat Perusak.

Klaim Kontrol dari Trump

Sementara itu, dari Washington, Donald Trump menyatakan akan mengambil alih kendali Venezuela untuk sementara. Tujuannya, katanya, demi memastikan transisi yang aman dan terkendali pasca-penangkapan Maduro.

"Kita akan menjalankan negara ini sampai kita dapat melakukan transisi yang aman, tepat, dan bijaksana," ujar Trump dalam konferensi pers Minggu (4/1). "Kami menginginkan perdamaian, kebebasan, dan keadilan bagi rakyat Venezuela yang hebat."

Ia juga menyebut kepentingan jutaan warga Venezuela yang hidup di perantauan, termasuk di AS, yang ingin pulang.

Dukungan dari Dalam Negeri

Namun begitu, di Venezuela, Wakil Presiden Delcy Rodriguez bersikukuh menolak narasi AS. Di hadapan media, ia dengan lantang menegaskan bahwa hanya ada satu presiden sah.

“Hanya ada satu presiden di Venezuela, dan namanya adalah Nicolas Maduro Moros,” tegas Rodríguez, seperti dikutip The Hill.

Pernyataannya itu sekaligus membantah klaim Trump yang menyebut Rodriguez sebagai presiden baru. Alih-alih menerima, ia justru mengecam operasi militer AS dan menuntut pembebasan segera Maduro beserta istrinya.

Minyak dan Kepentingan Bisnis

Ada lagi yang mencuat dari pernyataan Trump: soal minyak. Ia mengumumkan rencana untuk memperbaiki industri minyak Venezuela yang disebutnya telah "gagal total" dengan mengerahkan perusahaan-perusahaan minyak besar AS.

“Kami akan mengerahkan perusahaan-perusahaan minyak besar Amerika Serikat... masuk ke sana, menghabiskan miliaran dolar, memperbaiki infrastruktur yang rusak parah," kata Trump. Venezuela memang memiliki cadangan minyak mentah terbesar di dunia, sekitar 303 miliar barel.

Trump mengklaim telah menyiapkan 'sekelompok orang' untuk mengelola proses ini, meski rinciannya tidak dijelaskan. “Kami akan mengelolanya dengan sebuah kelompok, dan kami akan memastikan semuanya dijalankan dengan benar,” ujarnya singkat.


Halaman:

Komentar