Di SMK Negeri 7 Medan, Minggu (4/1) lalu, Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu’ti menyampaikan kabar yang cukup menggembirakan. Ia mengungkapkan, upaya pemerintah memaksimalkan digitalisasi sekolah lewat papan panel interaktif atau IFP terus berjalan. Angkanya tak main-main.
"Panel interaktif digital yang untuk tahun 2025 ini dibagikan untuk lebih dari 288.000 satuan pendidikan," kata Mu’ti dalam sambutannya di acara peresmian revitalisasi satuan pendidikan.
Lebih tepatnya, jumlahnya mencapai 288.865 unit yang telah tersebar ke seluruh Indonesia. Menurutnya, perangkat teknologi ini diharapkan bisa segera dipakai untuk mendukung proses belajar mengajar.
"Semoga, mudah-mudahan dalam waktu singkat semuanya sudah dapat dipergunakan, terutama pada semester kedua tanggal 5 Januari yang akan datang," ucapnya penuh harap.
Untuk wilayah Sumatera Utara sendiri, distribusinya juga cukup signifikan. Mu’ti menyebut ada 17.073 unit papan interaktif digital yang telah disalurkan ke daerah tersebut.
Pulihkan Sekolah Terdampak Bencana
Namun begitu, di sisi lain, Mu’ti juga tak menutup-nutupi tantangan yang dihadapi. Ia menyinggung soal bencana banjir dan longsor yang baru-baru ini melanda Sumut. Dampaknya lumayan serius, dengan 1.215 sekolah yang terdampak.
Tapi jangan khawatir. Upaya penanggulangan ternyata sudah menunjukkan progres yang menggembirakan. Menurut penjelasan sang menteri, sebagian besar sekolah sudah siap beroperasi kembali.
"Yang siap beroperasi untuk KBM pada tanggal 5 Januari nanti ada 1.157, atau 95.23 persen," beber Mu’ti.
Lalu bagaimana dengan sisanya?
"Yang belajar menggunakan tenda ada 19, atau 1.6 persen, dan yang masih proses pembersihan ada 29 atau 2.4 persen," tambahnya merinci.
Nah, untuk memastikan kelancaran proses belajar, pemerintah sudah menyiapkan skenario khusus. Mu’ti menyebut, sebuah surat edaran telah diterbitkan. Isinya mengatur pembelajaran dan asesmen bagi sekolah-sekolah yang terdampak, dengan kurikulum yang dirancang khusus pula.
"Insyaallah, pada tanggal 5 nanti, besok berarti, sekolah-sekolah tersebut sudah dapat dipergunakan sebagaimana mestinya," sambungnya meyakinkan.
Intinya, ada fleksibilitas yang diberikan. Sekolah yang belum bisa berfungsi normal tetap didorong untuk menyelenggarakan pembelajaran dengan sistem yang adaptif. Yang penting, kata Mu’ti, adalah semangat untuk bangkit dan terus belajar.
"Tetap menyelenggarakan pembelajaran dengan sistem yang adaptif. Yang penting adalah semangat kita untuk bangkit, semangat kita untuk dapat belajar dan bersemangat meraih masa depan," pungkasnya menutup pernyataan.
Artikel Terkait
Indra/Joaquin Runner-Up Indonesia Open 2026, Tembus 10 Besar Dunia
Siswi SMA Hilang Terseret Ombak di Tebing Pantai Apparalang Bulukumba
ICW Desak KPK Periksa Menteri Agus Andrianto dalam Kasus Pemerasan Izin Tinggal WNA
POPSI Kritik PP Nomor 24 Tahun 2026, Nilai Aturan Ekspor Sawit Berpotensi Tak Transparan dan Rugikan Petani