Mimpi yang Terkubur: Stigma Cukup SMA dan Masa Depan yang Terhambat

- Sabtu, 03 Januari 2026 | 08:00 WIB
Mimpi yang Terkubur: Stigma Cukup SMA dan Masa Depan yang Terhambat

Pendidikan seringkali dianggap sebagai kunci masa depan. Tapi di lapangan, ceritanya bisa berbeda. Banyak dari kita masih percaya bahwa sekolah cukup sampai SMA saja. Setelah itu, anak-anak muda didorong untuk segera cari kerja, menikah, atau membantu menopang ekonomi keluarga. Seolah-olah, bangku kuliah hanyalah pilihan tambahan, bukan sebuah keharusan.

Padahal, dunia berubah dengan cepat. Teknologi berkembang pesat, dan cara pandang lama ini justru bisa membelenggu potensi generasi muda. Lantas, apa yang sebenarnya terjadi?

1. Soal Biaya dan Kecemasan Orang Tua

Stigma ini tentu punya akar. Faktor ekonomi adalah alasan yang paling nyaring terdengar. Bagi banyak keluarga, biaya kuliah itu mahal sekali. Belum lagi pertanyaan klasik: apakah nanti kerjanya mudah setelah lulus? Banyak orang tua was-was, anak mereka menghabiskan waktu bertahun-tahun di kampus, namun akhirnya tetap menganggur. Akhirnya, bekerja selepas SMA dianggap langkah yang lebih masuk akal dan aman untuk kondisi dompet.

2. Budaya dan Cerita Sukses Tanpa Gelar

Selain urusan duit, budaya setempat juga punya pengaruh kuat. Di beberapa daerah, melanjutkan ke perguruan tinggi belum jadi tradisi. Ada pemahaman bahwa kesuksesan tak melulu ditentukan oleh ijazah dan toga.

Kisah-kisah individu yang "kaya mendadak" atau sukses berbisnis tanpa kuliah sering diangkat. Sayangnya, narasi seperti ini kerap mengabaikan satu hal: tidak semua orang punya jalan dan keberuntungan yang sama. Mengambil contoh langka sebagai patokan justru bisa menyesatkan.

Tekanan Sosial yang Memangkas Mimpi


Halaman:

Komentar