Dampaknya jelas terasa di kalangan anak muda. Banyak pelajar sebenarnya punya kemampuan dan minat belajar yang tinggi. Namun, niat mereka kerap surut karena tekanan dari sekitar. Kuliah dianggap sesuatu yang "wah" dan tidak perlu. Bahkan, dianggap membuang-buang waktu saja.
Kalau dibiarkan, kondisi ini jelas berbahaya. Dalam jangka panjang, kesenjangan sosial dan ekonomi bisa makin melebar. Soalnya, akses ke pendidikan tinggi masih menjadi salah satu tangga penting untuk naik kelas secara sosial.
Di era sekarang, dunia kerja makin rumit. Kuliah bukan cuma soal dapat gelar. Lebih dari itu, ia membekali seseorang dengan cara berpikir kritis, kemampuan beradaptasi, dan ketrampilan memecahkan masalah. Kampus juga jadi ruang untuk memahami realitas, mengasah bakat, dan membangun jaringan. Tanpa bekal itu, banyak anak muda berisiko tertinggal dalam persaingan yang makin sengit.
Meski begitu, pendidikan lanjutan tak harus selalu berarti universitas. Sekolah vokasi, politeknik, atau pelatihan keterampilan tertentu juga sah dan sangat relevan. Intinya adalah proses belajar jangan berhenti di SMA. Ia harus terus berlanjut, sesuai dengan minat dan jalan hidup masing-masing orang.
Mengubah Perspektif Bersama-sama
Mengikis stigma bahwa sekolah cukup sampai SMA butuh kerja sama banyak pihak. Pemerintah, misalnya, perlu membuka akses dan bantuan pendidikan lebih lebar. Sementara itu, masyarakat harus mulai melihat pendidikan sebagai investasi jangka panjang, bukan beban.
Yang tak kalah penting, generasi muda perlu diberi keberanian untuk bermimpi. Mereka harus yakin bahwa pendidikan adalah cara untuk membuka lebih banyak pintu dalam hidup. Proses belajar tidak boleh berhenti. Ia harus terus bergulir, demi masa depan yang lebih terbuka dan adil.
Artikel Terkait
Ketika Kritik Dibalas Teror: Refleksi Pilu dari Sejarah Taif
Trump Ancam Turun Tangan di Iran, Teheran Balas dengan Peringatan Keras ke PBB
Tabrakan Maut di Tuban, Dua Tewas Usai Bus Nekat Menyalip
Jantung Nikel Morowali Berhenti Berdetak, Buruh Tutup Jalan Layang