Kalau dirunut, sejak akhir 2021 hingga awal 2026, Afghanistan sudah lima kali melewati malam tahun baru dalam hening. Tidak ada acara publik, tidak ada kumpul-kumpul resmi. Warga yang nekat merayakan secara sembunyi-sembunyi bisa berhadapan dengan risiko yang tidak main-main.
Di sisi lain, pemerintah Taliban juga mengklaim telah memberantas prostitusi hingga ke akar-akarnya. Mereka menyatakan ini sebagai bagian dari penegakan moral berdasarkan tafsiran mereka terhadap hukum Islam. Bagi sebagian warga, situasi ini memang membawa rasa aman dari sudut pandang tertentu, meski tentu saja banyak juga yang merasa kehilangan kebebasan.
Jadi begitulah kenyataannya. Sebuah negara tanpa tahun baru, tanpa pesta, tanpa gemerlap. Tapi kehidupan terus berjalan. Bahagia atau tidak, itu sangat tergantung pada siapa Anda bertanya.
Artikel Terkait
Pergantian Tahun di Tenda Pengungsian: Prabowo Sambangi Korban Banjir Batang Toru
Risma Turun ke Kubangan, Berjibaku Bersama Warga Atasi Banjir Maninjau
TNI Akhirnya Dapat Uang Lelah Rp 165 Ribu per Hari Saat Bertugas di Daerah Bencana
Video Viral Jule-Yuka di Hotel: Hoaks atau Jebakan Berbahaya?