Seorang pemuda bernama Alfarisi bin Rikosen (21) meninggal dunia di dalam Rumah Tahanan Kelas I Medaeng, Surabaya, Selasa lalu. Ia sebelumnya ditangkap saat aksi unjuk rasa di Gedung Grahadi Surabaya pada bulan Agustus. Kabar duka ini langsung menyebar, memantik kembali sorotan terhadap kondisi lembaga pemasyarakatan kita.
Informasi soal kepergian Alfarisi pertama kali diterima oleh KontraS Surabaya dari keluarganya, sekitar pukul setengah sembilan pagi.
Demikian disampaikan Koordinator Badan Pekerja KontraS Surabaya, Fatkhul Khoir, lewat unggahan Instagram organisasinya.
Fatkhul tak ragu menyebut tragedi ini sebagai cermin suram dari sistem penahanan di Indonesia. Baginya, ini adalah bukti nyata kegagalan negara. Gagal melindungi hak hidup, gagal menjamin perlakuan manusiawi bagi mereka yang kebebasannya dirampas.
Yang cukup mencengangkan, selama masa penahanannya, berat badan Alfarisi disebut merosot drastis. Bisa mencapai 30 hingga 40 kilogram. Angka yang sulit dibayangkan. Kondisi itu, menurut Fatkhul, jelas mengindikasikan tekanan psikis yang luar biasa berat. Dan yang lebih parah, kuat diduga standar minimum penahanan serta layanan kesehatan di rutan itu jauh dari memadai.
Artikel Terkait
TNI Akhirnya Dapat Uang Lelah Rp 165 Ribu per Hari Saat Bertugas di Daerah Bencana
Video Viral Jule-Yuka di Hotel: Hoaks atau Jebakan Berbahaya?
Lentera Ibu Pertiwi Meredup: UU IKN dan DKJ Dituding sebagai Alat Oligarki dan Kekuatan Asing
Di Balik Sapuan Pagi: Kisah Petugas PPSU yang Bekerja dengan Perut Kosong