Sabtu lalu, suasana di kawasan Jermal, Medan, mendadak tegang. Polrestabes Medan bergerak untuk menggerebek sarang narkoba yang sudah lama bersemayam di sana. Tapi, yang dihadapi petugas bukan sekadar bandar. Mereka mendapat perlawanan sengit dari sejumlah warga. Bahkan, ada hal yang lebih memprihatinkan: anak-anak kecil diduga dikerahkan sebagai mata-mata untuk mengintai kedatangan polisi.
Jermal memang sudah punya reputasi buruk. Kawasan itu dikenal sebagai markas transaksi narkoba, tempat yang sudah bertahun-tahun jadi duri dalam daging bagi aparat. Makanya, penindasan kali ini bukan aksi spontan, melainkan langkah yang memang sudah direncanakan.
Kapolrestabes Medan, Kombes Pol Jean Calvijn Simanjuntak, membenarkan hal itu dalam konferensi pers di kantornya, Rabu (31/12).
"Terkait dengan gerebek sarang narkoba, saya menggambarkan satu fenomena, satu tempat yang namanya Jermal," kata Calvijn.
"Sudah bertahun-tahun dan merupakan jaringan bandar, sindikat narkoba dan bersama itu ada perjudian di dalamnya. Bertahun-tahun lamanya aparat penegakan hukum di dalam melakukan penegakan hukum di sana,"
Menurutnya, perlawanan dari oknum warga sudah jadi hal yang biasa. Mereka tak segan melempari petugas, menghalang-halangi penangkapan, bahkan berusaha merebut barang bukti dan memaksa polisi melepas tersangka yang sudah diamankan.
"Tidak boleh oknum-oknum narkoba, bandar, pelaku kejahatan yang melawan petugas dalam hal melakukan tugas pokoknya," tegas Calvijn.
"Ada anggota personel kepolisian yang menjadi korban di Jermal 7, Jermal 12 dan ini berhasil kita tindak,"
Motor Polisi Ludes Dibakar, Sindikat Terorganisir
Sementara itu, Kasat Narkoba Polrestabes Medan, Kompol Rafli Yusuf Nugraha, mengungkap betapa rapi jaringan di sana. Sindikatnya terorganisir dengan baik, punya cara licik untuk mengelabui polisi.
"Dalam hitungan dua jam, dia (tersangka) sempat mengubah warna cat rambut ya. Ini terorganisir betul, sudah niat ya," ujar Rafli.
Kekacauan pun terjadi. Saat penggerebekan, sebuah sepeda motor milik anggota polisi dibakar oleh warga. Pelakunya berhasil diamankan dan, tak mengejutkan, ternyata punya koneksi dengan bandar narkoba setempat.
"Sempat juga terjadi ada pembakaran motor anggota saat itu. Yang bersangkutan sekarang diamankan di Polres," jelas Rafli.
Anak-Anak yang Jadi Mata-Mata
Yang paling menyedihkan adalah peran anak-anak dalam operasi haram ini. Rafli menduga kuat mereka sudah didoktrin oleh bandar untuk bertugas sebagai pemantau. Tugasnya sederhana: mengawasi dan memberi tahu jika ada orang asing atau aparat yang mendekat.
"Indikasi kuat (dipekerjakan sebagai pemantau), karena memang kami hanya ditinggal HT (Handy Talkie)-nya. Cuma si anak memang sudah didoktrin,"
"Memang saat penggerebekan tidak ada menemukan (anak-anaknya), hanya informasi masuk ke kami ada seperti itu,"
Kini, penyelidikan masih terus berlanjut. Polisi mendalami semua lini, mulai dari jaringan judi hingga narkoba, untuk memastikan seluruh pelaku bisa dibawa ke meja hijau. Persoalan di Jermal, tampaknya, masih jauh dari kata selesai.
Artikel Terkait
Sassuolo Hajar Verona 3-0, Jay Idzes Jadi Pilar Pertahanan
FIFA dan UEFA Dilaporkan ke Mahkamah Pidana Internasional Soal Klub di Permukiman Disengketakan
Jadwal Imsak Makassar 21 Februari 2026 Pukul 04:42 WIB
Jadwal Imsak dan Salat Kota Jambi untuk 3 Ramadan 1447 H