✍🏻 Ayu Shintia
Obrolan warga Purwakarta lagi panas. Topiknya? Almaz Fried Chicken. Tempat yang dulu kalau lewat situ, antriannya panjang banget itu. Tapi sekarang, kabarnya tutup. Resmi. Banyak yang cuma bisa geleng-geleng.
Sebagai pengamat, kejadian kayak gini selalu menarik. Kok bisa ya, bisnis yang dari luar terlihat sukses, tiba-tiba ambruk? Padahal ramai terus.
Jujur, ini bikin penasaran. Outletnya selalu rame, brand-nya udah dikenal, konsepnya juga beda. Tapi ujung-ujungnya, tutup juga. Ada apa sebenarnya?
Pertama, ramai belum tentu untung.
Ini yang sering salah kaprah. Antrian panjang itu cuma satu sisi cerita. Di balik layar, biaya sewa, operasional, dan bahan baku bisa melonjak. Kalau harga jual nggak bisa mengimbangi, ya pelan-pelan terkikis. Profit margin bisa habis meski pelanggan datang terus.
Lalu, ada soal ekspansi.
Membuka cabang baru dengan cepat memang bikin image bisnis makin keren. Tapi, kalau sistem internal belum benar-benar siap, masalah bakal muncul di mana-mana. Kontrol kualitas jadi berantakan, manajemen SDM kewalahan, dan yang paling berbahaya: arus kas jadi kacau. Bisnis terlihat besar, tapi fondasinya rapuh.
Artikel Terkait
Pemprov Sulsel Tegaskan Anggaran Sewa Helikopter Rp 2 Miliar Belum Direalisasi
Arus Balik Lebaran 2026 Resmi Berakhir, 3,38 Juta Kendaraan Masuk Jabotabek
Kebocoran Diduga Picu Ledakan dan Kebakaran di SPBE Cimuning Bekasi
Aturan Larangan Ponsel di Sekolah Makassar Picu Pro-Kontra di Kalangan Siswa