Harga Minyak Dunia Melemah di Tengah Kabar Kesepakatan Damai AS-Iran

- Jumat, 22 Mei 2026 | 08:15 WIB
Harga Minyak Dunia Melemah di Tengah Kabar Kesepakatan Damai AS-Iran

Harga minyak dunia pada perdagangan Kamis, 21 Mei 2026, kehilangan momentum penguatannya dan ditutup melemah. Penurunan ini dipicu oleh laporan yang menyebutkan bahwa Amerika Serikat dan Iran telah mencapai draf akhir perjanjian damai, meredakan ketegangan geopolitik yang selama ini menjadi katalis kenaikan harga komoditas energi.

Minyak mentah Brent berjangka untuk kontrak Juli, yang menjadi acuan harga minyak global, turun 0,6 persen menjadi 104,40 dolar AS per barel. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS untuk kontrak yang sama melemah 0,1 persen ke level 98,17 dolar AS per barel. Sebelumnya, harga sempat tertekan setelah media pemerintah Iran melaporkan bahwa sejumlah kapal telah melintasi Selat Hormuz di bawah pengawasan angkatan laut negara tersebut.

Kabar mengenai kesepakatan damai ini pertama kali disiarkan oleh Kantor Berita Buruh Iran (ILNA) yang mengutip penyiar Arab Saudi, Al Arabiya. Draf akhir perjanjian antara Washington dan Teheran disebut telah rampung dengan mediasi Pakistan dan diperkirakan akan diumumkan dalam beberapa jam ke depan. Ketentuan utama dalam perjanjian tersebut mencakup gencatan senjata segera di semua front, jaminan kebebasan navigasi di Teluk dan Selat Hormuz, serta dimulainya negosiasi mengenai isu-isu yang belum terselesaikan dalam waktu satu pekan.

Namun, di tengah optimisme tersebut, masih terdapat ketegangan yang menyelimuti negosiasi. Sebelumnya, Reuters melaporkan bahwa Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Mojtaba Khamenei, telah mengeluarkan arahan agar uranium Iran yang hampir mencapai tingkat senjata nuklir tidak dikirim ke luar negeri. Langkah ini ditafsirkan sebagai pengerasan sikap Teheran terhadap salah satu poin krusial dalam perundingan dengan AS, mengingat Presiden Donald Trump berulang kali menegaskan bahwa Iran tidak boleh memiliki senjata nuklir.

Reuters juga menambahkan bahwa Trump telah memberikan jaminan kepada sekutunya, Israel, bahwa persediaan uranium yang diperkaya tinggi milik Iran akan meninggalkan negara itu berdasarkan kesepakatan damai apa pun. Namun, laporan tersebut langsung dibantah oleh sejumlah pihak. Al Jazeera mengutip seorang pejabat senior Iran yang menyebut kabar perintah Khamenei sebagai "propaganda oleh musuh-musuh kesepakatan." Gedung Putih juga menolak laporan itu, dengan menggambarkannya sebagai informasi palsu, sebagaimana dikutip Fox News dari seseorang yang terlibat langsung dalam negosiasi.

Di sisi lain, Iran pekan ini justru bergerak memperluas kendalinya atas Selat Hormuz. Jalur perairan vital yang dilalui seperlima pasokan minyak dan gas dunia itu telah ditutup secara efektif oleh Iran sejak konflik Timur Tengah meletus pada akhir Februari, menyebabkan gangguan pasokan terbesar dalam sejarah. Teheran meluncurkan badan pengatur maritim baru bernama Otoritas Selat Teluk Persia. Badan tersebut pada Rabu lalu memperluas batas-batas yang disebutnya sebagai "area pengawasan manajemen" di kedua sisi Selat Hormuz dan menyatakan bahwa setiap kapal yang ingin melintasi titik rawan tersebut wajib mendapatkan koordinasi dan izin dari Manajemen Jalur Perairan Teluk Persia.

Sementara itu, Duta Besar Iran untuk Prancis, Mohammad Amin-Nejad, mengungkapkan bahwa negaranya tengah berdiskusi dengan Oman untuk menetapkan sistem tol permanen bagi lalu lintas maritim yang melintasi selat tersebut.

Di tengah dinamika ini, Trump pada Rabu lalu menyatakan bahwa AS berada di "tahap akhir" penyusunan rancangan perjanjian damai dengan Iran. Namun, ia juga membangkitkan ancaman eskalasi konflik dengan memperingatkan bahwa "kita akan melakukan beberapa hal yang agak buruk" jika kesepakatan tidak tercapai. Presiden AS pada Senin sebelumnya bahkan disebut telah menunda serangan militer yang direncanakan terhadap Iran atas permintaan tiga pemimpin Teluk, dan mengaku hanya "satu jam lagi" dari melancarkan serangan tersebut.

Iran, di sisi lain, menyatakan sedang meninjau posisi terbaru Washington mengenai penyelesaian konflik, tetapi menegaskan kesiapannya untuk membalas setiap serangan dengan serangan balasan yang dahsyat. "Jika kita tidak mendapatkan jawaban yang tepat, semuanya akan berjalan sangat cepat. Kita semua siap. Kita harus mendapatkan jawaban yang tepat itu harus berupa jawaban yang benar-benar 100 persen baik," kata Trump kepada wartawan.

Menteri Luar Negeri AS, Marco Rubio, mengakui bahwa "beberapa kemajuan" telah dicapai terkait Iran. "Kita berurusan dengan sistem yang sendirinya agak retak, sistem Iran. Namun, akan ada beberapa kunjungan. Saya percaya perwakilan Pakistan akan melakukan perjalanan ke Teheran hari ini, jadi mudah-mudahan itu akan memajukan hal ini lebih lanjut," ujar Rubio. Ia menambahkan, "Preferensi presiden adalah untuk mencapai kesepakatan yang baik. Saya di sini bukan untuk memberi tahu Anda bahwa itu pasti akan terjadi, tetapi saya di sini untuk memberi tahu Anda bahwa kami akan melakukan segala yang kami bisa untuk melihat apakah kami bisa mendapatkannya. Tetapi jika kita tidak bisa mendapatkan kesepakatan yang baik, presiden sudah jelas dia punya pilihan lain."

Editor: Handoko Prasetyo

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar