INDEF Soroti Ekonomi 2025: Pertumbuhan Tersandera, Anggaran Prioritas Dipertanyakan

- Selasa, 30 Desember 2025 | 16:50 WIB
INDEF Soroti Ekonomi 2025: Pertumbuhan Tersandera, Anggaran Prioritas Dipertanyakan

Masalahnya ada dua: sektor riil yang rumit dan godaan instrumen SRBI. Iya, SRBI atau Sekuritas Rupiah Bank Indonesia itu. Imbal hasilnya 4-5 persen dengan risiko minim, sampai-sampai perbankan lebih suka 'parkir' duit di sana. Nilainya sudah Rp700 triliun! "Ini melenakan," tandas Eko. "Harus dikurangi kalau mau ekonomi tumbuh lebih tinggi."

Industri Tumbuh, Tapi Tanpa Lapangan Kerja

Ada fenomena aneh yang dipaparkan Imaduddin Abdullah, Direktur Kolaborasi Internasional INDEF lainnya. Namanya 'jobless industrialization'. Industri logam dasar tumbuh 15 persen, tapi kontribusinya ke PDB di bawah 1 persen dan nyerap sedikit tenaga kerja.

"Sektor yang seharusnya serap banyak tenaga kerja, seperti tekstil dan kayu, justru kontraksi," jelas Imaduddin.

"Ini berbahaya. Bonus demografi bisa berbalik jadi bencana."

Data pun membuktikan kekhawatirannya. Jumlah pemuda yang menganggur dan tidak sekolah di kita lebih tinggi daripada Malaysia, Thailand, bahkan Vietnam. Produktivitas kita juga stagnan, ketinggalan jauh dan hampir tersusul tiga kali lipat oleh China.

Fiskal Sesak, Investor Kabur?

Tekanan fiskal makin menjadi karena rasio pajak kita masih rendah. Yang lebih mencemaskan, arus investasi asing langsung (FDI) kita justru menurun dalam sepuluh tahun terakhir. Berbanding terbalik dengan tetangga-tetangga.

"Investor sekarang nggak lagi tertarik sama narasi 'pasar besar'," tegas Imaduddin.

"Mereka butuh kepastian kebijakan, biaya efisien, infrastruktur oke, dan integrasi dengan rantai pasok regional."

Struktur belanja 2026 juga menunjukkan perubahan drastis. Belanja modal dan transfer ke daerah dipotong, sementara anggaran program MBG melonjak ratusan persen. Perubahan paling ekstrem yang pernah ada.

Lalu, Apa yang Harus Dilakukan?

Di akhir diskusi, INDEF merangkum sejumlah rekomendasi. Intinya sih, semua lini perlu perbaikan.

Fiskal harus diperkuat dengan basis pajak yang lebih luas dan sistem yang dimodernisasi. Program prioritas wajib punya indikator kinerja yang jelas, jangan asal gelontor dana.

Di sisi moneter, target pertumbuhan kredit harus lebih agresif, minimal 15-16 persen. Godaan SRBI yang 'melenakan' perbankan itu harus dikurangi.

Secara sektoral, fokus harus pada industri padat karya yang nilai tambahnya tinggi. Jangan lupa investasi di penelitian dan pengembangan, plus pelatihan ulang untuk tenaga kerja.

Terakhir, soal iklim investasi. Kata kuncinya satu: kepastian.

"Pengusaha sering nggak butuh insentif," tutup Imaduddin.

"Mereka butuh kepastian. Itu jauh lebih berharga."

Memasuki 2026, tantangan masih menumpuk. Dari perang tarif global sampai persaingan ketat di regional. INDEF menegaskan, pertumbuhan ekonomi saja tidak cukup. Harus berkualitas, inklusif, dan berkelanjutan. Biar manfaatnya benar-benar sampai ke semua orang.

Editor: Lia Putri


Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar