Goncangan di pasar modal Indonesia pekan lalu benar-benar bikin deg-degan. Index saham anjlok hampir 8% setelah Morgan Stanley Capital International (MSCI) menghentikan index rebalancing untuk saham-saham dalam negeri. Alasannya klasik, tapi serius: soal transparansi dan tata kelola bursa yang dinilai belum memadai.
Nah, respons datang cukup cepat dari Istana. Melalui Menko Perekonomian, Presiden Prabowo Subianto berkomitmen untuk segera meningkatkan free float dan transparansi kepemilikan saham. Langkah ini langsung diapresiasi oleh Wakil Ketua MPR RI dari Fraksi PAN, Eddy Soeparno.
"Komitmen presiden itu sebagian dari kebijakan yang ditunggu investor, terutama investor asing. Peran mereka di BEI kan nggak main-main," ujar Eddy dalam keterangannya, Minggu (1/2/2026).
Bagi Eddy, momentum untuk berbenah ini sangat krusial. Menurutnya, perbaikan tata kelola adalah kunci utama agar Indonesia tidak kehilangan statusnya sebagai pasar berkembang atau emerging market di mata dunia.
"Cuma dengan memperbaiki tata kelola, transparansi, dan likuiditas, kita bisa hindari penurunan peringkat dari MSCI menjadi frontier market," tegasnya.
Waktunya pun nggak banyak. MSCI memberi tenggat waktu evaluasi sampai Mei 2026. Itu artinya, tinggal hitungan bulan bagi otoritas dan pelaku pasar untuk membuktikan komitmen perbaikan.
"Karena itu, kami mendorong Direksi BEI dan OJK untuk segera bertindak. Jangan sampai telat," katanya lagi.
Artikel Terkait
Indonesia Kecam Serangan Israel di Gaza: Pelanggaran Gencatan Senjata yang Memicu Kembalinya Mimpi Buruk
Longsor Pangalengan Tewaskan Dua Anak Saat Makan Siang
Gencatan Senjata Retak, 32 Nyawa Melayang dalam Serangan di Gaza
Tebing Ambrol di Jasinga, Lalu Lintas Bogor Terganggu