Dampaknya jelas. Bagi banyak investor global, keputusan MSCI itu bukan sekadar panduan, tapi semacam 'izin untuk berinvestasi'. Faktanya, investor asing memegang sekitar 45% dari total nilai kepemilikan saham di BEI. Jadi, wajar saja kalau keputusan MSCI yang dianggap sebagai 'mosi tidak percaya' itu langsung memicu aksi jual besar-besaran.
Guncangan pasar seperti ini, lanjut Eddy, efeknya bisa luas. Kalau harga saham BUMN anjlok, kekayaan negara ikut terpukul. Tapi yang paling terasa justru di level investor kecil.
"Yang paling terdampak itu investor minoritas. Mereka ini orang-orang biasa yang pakai tabungan atau uang pensiun untuk main saham. Bisa bayangkan kerugiannya?" urainya.
Di sisi lain, ia melihat ada titik terang. Perhatian presiden terhadap perlindungan investor retail dan aset negara dinilai sebagai langkah tepat.
"Kami apresiasi Presiden Prabowo yang perhatikan kepentingan investor kecil dan nilai aset bangsa di BUMN. Sekarang saatnya kerja keras. Nggak ada waktu untuk istirahat," tutup Eddy.
Pesan akhirnya jelas: semua pihak harus bergerak cepat. Tujuannya satu, agar Indonesia lolos dari evaluasi Mei nanti dan punya pasar modal dengan standar internasional yang bisa dibanggakan.
Artikel Terkait
Pekerja Renovasi Jembatan Rumpin Hilang Tercebur ke Sungai Cisadane
Israel Ancam Hentikan Operasi MSF di Gaza Soal Daftar Staf
Sambutan Hangat di Abu Dhabi, Megawati Ditanya: Lebih Sayang Anak atau Cucu?
Indonesia Kecam Serangan Israel di Gaza: Pelanggaran Gencatan Senjata yang Memicu Kembalinya Mimpi Buruk