Saudariku yang gugur sebagai syahid, Minnatullah Al-Kahlout.
Saudaraku yang gugur sebagai syahid, Yaman Al-Kahlout.
Narasi itu kemudian menjadi lebih personal, lebih menghantam. Ibrahim menggambarkan betapa dekatnya momen itu. "Hanya ada beberapa meter jarak antara aku dan kamu," kenangnya. Bahkan lebih dari itu, ia menggambarkan sebuah ikatan terakhir yang tak akan terlupa: "Aku berpegangan erat pada saudaraku Yaman. Dia gugur sebagai syahid sambil memegang tanganku."
Namun begitu, di tengah kepedihan yang tak terbayangkan, ada sebuah ketetapan yang ia coba terima. "Allah telah menetapkan hidup bagiku," tulisnya, mencoba menemukan makna. "Karena Allah berkuasa atas urusan-Nya, meskipun kebanyakan orang tidak mengetahuinya."
Peristiwa yang melatari kesedihan ini terjadi pada Agustus 2025. Saat itu, Abu Ubaidah, juru bicara Brigade Al-Qassam yang terkenal itu, sedang berkumpul bersama keluarganya. Serangan bom Israel menghantam mereka. Dari seluruh keluarga, hanya Ibrahim, sang putra, yang selamat. Sebuah fakta pahit yang kini ia tanggung sendirian.
Artikel Terkait
Pimpinan Ponpes di Lombok Tengah Jadi Tersangka Kasus Kekerasan Seksual
Debt Collector di Metro Diamankan, Diduga Gelapkan Mobil Debitur Rp285 Juta
Mentan Ancam Alihkan Anggaran Daerah yang Tak Serius Cetak Sawah
Komnas HAM Tegaskan Kritik Kebijakan Pemerintah Adalah Hak yang Harus Dijamin