Seorang bocah perempuan berusia 12 tahun di Medan diduga menusuk ibunya sendiri hingga tewas. Peristiwa mengerikan itu terjadi di tengah malam, dalam diam.
Kapolrestabes Medan, Kombes Jean Calvijn Simanjuntak, membeberkan kronologinya. Semua berawal pada Rabu dini hari, sekitar pukul empat pagi. Saat itu, sang ibu, F (42), sedang tidur di lantai satu bersama dua anaknya. Suaminya sendiri tidur terpisah di lantai dua.
Menurut Calvijn, hubungan suami-istri itu memang sudah lama tidak harmonis. Mereka memilih tidur di tempat berbeda.
"Dari keterangan rekan kerja bapaknya, memang diketahui mereka masih satu rumah. Tapi hubungannya kurang harmonis,"
kata Calvijn dalam konferensi pers, Senin (29/12).
Mereka tidur di kasur bertingkat. Sang ibu dan si bungsu, AI, tidur di kasur yang sama. Kakaknya tidur di bagian bawah.
Lalu, sekitar pukul 04.00 WIB, AI terbangun. Ia memandangi ibunya yang tidur lelap di sampingnya. Pandangan itu memicu amarah yang sudah lama tertanam. Niat untuk melukai pun muncul.
Rupanya, niat itu bukan hal baru. Sejak 22 November lalu, AI sudah terpikir untuk menyakiti ibunya. Pemicunya sederhana sekaligus kompleks: kekesalan yang menumpuk. Ia jengkel melihat ibunya sering memarahi, bahkan memukul kakaknya. Tak hanya itu, sang ibu juga kerap mengancam dengan pisau baik kepada AI, kakaknya, maupun ayah mereka.
Maka, saat terbangun itu, AI pergi ke kamar mandi dan mencuci muka. Langkahnya kemudian menuju dapur. Ia mengambil sebuah pisau.
Yang menarik, sebelum beraksi, AI sempat membuka bajunya. Alasannya agar tidak terkena noda darah.
"Adik memandangi korban yang tidur di sampingnya, semakin menimbulkan rasa marah. Ia mengambil pisau, membuka bajunya, lalu melukai korban. Ditanya kenapa baju dibuka? Katanya supaya tidak terkena noda kalau ada perlukaan,"
jelas Calvijn.
Kakaknya Terbangun
Saat tusukan pertama terjadi, kakak AI terbangun karena tubuh sang ibu menimpa dirinya. Dalam keadaan setengah sadar, ia melihat adiknya sedang menusuk-nusuk ibu mereka dengan pisau.
Refleks, kakaknya berusaha merebut pisau itu. Terjadi tarik-menarik, hingga akhirnya pisau terlepas dan dibuang. Tapi AI tak berhenti. Ia keluar kamar, kembali ke dapur, dan mengambil pisau kecil lainnya.
Kakaknya berusaha mencegah, mencoba menutup pintu kamar agar AI tidak bisa masuk kembali. Namun, upaya itu tak sepenuhnya berhasil.
"Saat adik keluar kamar menuju dapur dan mau masuk lagi bawa pisau kedua, terjadi tarik-menarik dengan kakak. Pisaunya sampai jatuh,"
tutur Calvijn.
Setelah itu, AI masih sempat melukai ibunya lagi. Sementara kakaknya, dalam kepanikan, lari ke lantai dua membangunkan ayah mereka. Ia berteriak bahwa adiknya telah melukai ibu.
Ayah dan anak itu lalu turun ke lantai satu. Mereka menemukan F masih bernyawa, meski kondisi parah. Dengan susah payah, mereka menyandarkan tubuhnya ke lemari.
Korban sempat meminta minum, dan kakaknya memberikannya. Di saat yang sama, sang suami menghubungi rumah sakit. Sayangnya, ambulans baru tiba sekitar pukul 05.40 WIB.
"Petugas ambulans memeriksa korban. Ternyata korban sudah meninggal dunia,"
kata Calvijn.
Pemeriksaan forensik kemudian mengungkap kekejaman yang sebenarnya. Korban mengalami 26 luka tusuk di sekujur tubuhnya.
"Dari hasil pemeriksaan forensik RS Bhayangkara, terdapat 26 luka tusuk pada korban,"
kata dr. Altika dari RS Bhayangkara Medan.
Kini, AI berstatus sebagai Anak yang Berkonflik dengan Hukum. Calvijn menyebut, penyesalan tentu menghinggapi diri gadis 12 tahun itu.
"Penyesalan tentu ada. Bagaimanapun, itu adalah ibunya sendiri,"
ungkapnya.
Akar Masalah
Lantas, apa yang mendorong seorang anak melakukan hal sedrastis itu? Polisi mengurai beberapa motif yang saling bertautan.
Pertama, tentu saja pola kekerasan dalam rumah tangga yang ia saksikan dan alami. AI kerap melihat ibunya melakukan kekerasan mengancam dengan pisau, memukuli kakaknya dengan sapu atau ikat pinggang hingga meninggalkan memar. Itu semua terekam dalam benaknya.
Kedua, ada pengaruh dari dunia digital. Calvijn menyebut AI terinspirasi dari game Murder Mystery, khususnya season Kills Others, yang banyak menampilkan adegan penggunaan pisau. Ia juga menonton serial anime DC yang menampilkan adegan pembunuhan serupa.
"Obsesi pelaku dalam melakukan tindak pidana ini dipengaruhi game Murder Mystery yang menggunakan pisau. Makanya ia memilih pisau,"
paparnya.
Dan yang ketiga, hal yang mungkin dianggap sepele oleh orang dewasa, tapi berarti besar bagi seorang anak: sakit hati. Sang ibu menghapus game online milik AI. Tindakan itu seperti menjadi percikan terakhir yang memantik ledakan amarah yang sudah menumpuk.
"Motivasi si adik melakukan ini berlapis. Ia melihat kekerasan korban terhadap keluarganya, ia sakit hati karena game online-nya dihapus,"
pungkas Calvijn.
Sebuah tragedi yang menyisakan banyak tanda tanya. Tentang pola asuh, tentang pengaruh konten digital, dan tentang seberapa dalam luka batin seorang anak bisa tertimbun sebelum akhirnya meledak dengan cara yang paling mengerikan.
Artikel Terkait
Kadin Sultra Bagikan 12.000 Paket Sembako Murah Jelang Ramadan
IPK Indonesia Anjlok ke 34, Persepsi Dunia Usua Jadi Pemicu Utama
14 Februari: Tak Hanya Valentine, Juga Hari Kesadaran Cacat Jantung dan Pemberian Buku
Pengamat Kritik Wacana Perluasan Peran TNI dalam Revisi UU Terorisme