Di gedung DPR, Senayan, suasana Jumat siang itu cukup ramai. Sekjen Partai Golkar, Sarmuji, berhenti sejenak untuk menjawab pertanyaan wartawan. Topiknya panas: beda pandangan antara dua menteri kabinet soal angka lifting migas. Tapi, dari raut wajahnya, Sarmuji justru terlihat santai. Ia dengan tegas membantah adanya ketegangan antara Menkeu Purbaya Yudhi Sadewa dan Menteri ESDM Bahlil Lahadalia.
"Oh nggak ada, nggak ada. Sama sekali nggak memanas," ujarnya sambil meyakinkan.
"Memang ada yang coba mem-framing seolah ada konflik. Tapi faktanya? Tidak."
Menurut Sarmuji, pernyataan Menkeu Purbaya yang meragukan kenaikan lifting tanpa ladang minyak baru punya dasar yang bisa dimengerti. Namun begitu, data yang diungkapkan Bahlil juga bukan omong kosong. Keduanya, dalam pandangannya, tidak saling menafikan.
"Yang disampaikan Pak Purbaya ada benarnya. Tapi kalau meragukan data Pak Bahlil, ya jelas salah," kata Sarmuji dengan logika yang sederhana.
"Data lifting itu kan tinggal dihitung total. Pasti benar. Nggak mungkin salah, kecuali kalkulatornya rusak," tambahnya, diselingi tawa ringan.
Ia kemudian menekankan poin penting: inti dari kedua pernyataan menteri itu sebenarnya sama. Purbaya bilang lifting naik harus ada investasi baru. Bahlil, meski dengan data yang berbeda, juga punya pandangan serupa soal pentingnya investasi. Jadi, di mana letak pertentangannya?
Artikel Terkait
Pesawat Angkut Militer Rusia An-26 Jatuh di Krimea, 29 Orang Tewas
Mendagri Resmikan Kebijakan WFH Sehari Seminggu untuk ASN Daerah
Polisi Tangkap Pelaku Penipuan Investasi Sarang Walet Rugikan Korban Rp 78 Miliar
Mendagri Terbitkan SE, ASN Daerah Boleh WFH Setiap Jumat Mulai 2026