Hubungan AS-Israel Makin Tegang di Bawah Trump, Netanyahu Terjepit

- Senin, 06 Juli 2026 | 16:20 WIB
Hubungan AS-Israel Makin Tegang di Bawah Trump, Netanyahu Terjepit

Hubungan antara Amerika Serikat dan Israel, yang selama puluhan tahun menjadi pilar utama dukungan militer dan diplomatik bagi negara Yahudi itu, kini berada dalam titik terendah. Di tengah tekanan politik dalam negeri dan ancaman pemilu, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu harus berhadapan dengan Presiden AS Donald Trump yang dilaporkan semakin frustrasi dengan kebijakan perang Israel di Lebanon.

Menurut laporan yang bocor dan tidak dibantah Gedung Putih Trump pernah menegur Netanyahu dengan keras melalui telepon, menyebutnya "gila" dan menuduhnya tidak tahu berterima kasih. "Semua orang membencimu sekarang. Semua orang membenci Israel karena ini," kata Trump kepada Netanyahu, seperti dikutip dari sumber yang dekat dengan percakapan tersebut. Dalam wawancara dengan Axios pekan lalu, Trump mengakui bahwa Netanyahu "tahu siapa bosnya", menegaskan ketegangan di antara kedua pemimpin.

Ketegangan ini muncul di saat kritis bagi Netanyahu. Ia menghadapi persidangan korupsi yang bisa berujung pada hukuman penjara, serta pemilu yang dapat mengakhiri kekuasaannya. Di sisi lain, Washington tengah berupaya mencapai kesepakatan dengan Iran, yang menjadikan penghentian perang Israel di Lebanon selatan sebagai syarat utama. Posisi ini bertolak belakang dengan keinginan publik Israel yang sebagian besar mendukung kelanjutan perang.

Pergeseran di Kubu MAGA

Survei terbaru menunjukkan bahwa dukungan terhadap Israel tidak hanya luntur di kalangan publik AS, tetapi juga di dalam basis pendukung Trump sendiri, kelompok 'Make America Great Again' (MAGA). Tokoh seperti Marjorie Taylor Greene, yang sebelumnya loyal, kini tanpa ampun mengkritik dukungan AS untuk Israel. Tucker Carlson, mantan pembawa acara televisi sayap kanan, bahkan menuduh Israel telah "membujuk, meyakinkan, mengancam" Trump untuk menyerang Iran sebagai dalih melancarkan perang di Lebanon.

Daniel Byman, dari Centre for Strategic and International Studies (CSIS) dan profesor di Universitas Georgetown, menilai Trump memiliki fleksibilitas besar dalam menentukan kebijakan terhadap Israel. "Meskipun banyak Republikan sangat pro-Israel, presiden memiliki basis pendukung yang sangat loyal dan telah menunjukkan bahwa ia dapat membawa sebagian besar partainya bersamanya," kata Byman. "Dalam hal ini, ia akan didukung oleh banyak Demokrat partai tersebut semakin kritis terhadap Israel."

Dukungan AS selama ini sangat vital bagi Israel. Sejak 2016, Israel menerima bantuan militer sebesar 38 miliar dolar AS selama sepuluh tahun perjanjian terbesar antara AS dengan negara lain. Secara diplomatik, Washington telah menggunakan hak veto PBB-nya setidaknya enam kali untuk melindungi Israel sejak perang di Gaza meletus pada Oktober 2023, yang telah menewaskan lebih dari 72.000 warga Palestina.

Tekanan Politik di Dalam Negeri Israel

Menjelang pemilu, lawan-lawan politik Netanyahu memanfaatkan keretakan hubungan dengan AS sebagai isu kampanye. Mantan Perdana Menteri Yair Lapid menulis di X, "Jika kita tidak segera mengganti pemerintahan ini, hubungan luar negeri Israel akan hancur." Gadi Eisenkot, mantan Kepala Staf militer yang berpotensi menggulingkan Netanyahu, menuduh perdana menteri menangani hubungan luar negeri dengan sangat buruk sehingga mendorong Trump bertindak sendiri dan mencari kesepakatan dengan Iran.

Analis politik Israel Nimrod Flaschenberg menekankan pentingnya AS bagi Israel. "AS benar-benar merupakan poros yang menjamin posisi Israel di dunia. AS adalah segalanya bagi Israel menyediakan pertahanan, teknologi, kedudukan diplomatik semuanya."

Penulis dan mantan diplomat Amerika, Aaron David Miller, mencatat bahwa meskipun bukan pertama kalinya presiden AS berselisih dengan Israel, "tidak ada presiden atau wakil presiden AS yang berbicara dengan istilah seperti pemerintahan saat ini, atau membocorkan diskusi dengan rekan mereka dari Israel di mana mereka direndahkan dan didiskreditkan." Namun, Miller menambahkan bahwa tidak ada indikasi Trump akan memutuskan hubungan sepenuhnya. "Jika Trump ingin memberikan tekanan serius pada Israel, itu harus dilakukan untuk mencapai terobosan signifikan yang akan membuatnya terlihat baik. Tidak ada isu di luar sana bukan Lebanon, Gaza, atau normalisasi hubungan Israel-Arab Saudi yang mendekati terobosan yang akan membenarkan tekanan berkelanjutan terhadap Israel."

Editor: Dewi Ramadhani

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags