Gus Murtadho Soroti Dukungan untuk Haji Isam: "Hutan Papua Bukan Tanah Kosong"
Kritik pedas datang dari aktivis muda Nahdlatul Ulama, Roy Murtadho atau yang biasa disapa Gus Murtadho. Kali ini, sasarannya adalah rencana besar pengembangan pangan dan energi nasional di Merauke, Papua Selatan. Dia melihat bayangan kelam di balik proyek strategis itu. Menurutnya, ini bisa jadi awal penghancuran hutan Papua, mengulangi sejarah pilu yang pernah terjadi di Kalimantan.
Yang jadi sorotan, pemerintah Prabowo Subianto dinilai justru membuka jalan lebar-lebar bagi korporasi besar. Padahal, perusahaan-perusahaan semacam itu seringkali dituding merusak lingkungan. Salah satu nama yang disebut adalah pengusaha Haji Isam.
“Setelah menghancurkan hutan Kalimantan, kini Haji Isam mendapat dukungan pemerintah Prabowo untuk menghancurkan hutan Papua,”
Begitu pernyataan tertulis Gus Murtadho yang dirilis Sabtu lalu. Kata-katanya keras, tanpa tedeng aling-aling.
Lalu, seberapa besar ancamannya? Gus Murtadho mengungkap angka yang bikin merinding: sekitar 3 juta hektar lahan di Merauke berpotensi dibuka. Rinciannya, 2 juta hektar untuk persawahan dan sejuta hektar lagi buat perkebunan tebu. Skala yang luar biasa itu, di mata dia, sangat mengancam benteng terakhir hutan tropis Indonesia. Papua bukan sekadar hamparan hijau di peta. Ia adalah paru-paru yang masih tersisa.
Di sisi lain, Gus Murtadho menegaskan satu hal penting. Papua bukan tanah kosong yang bisa seenaknya dijadikan objek investasi. Wilayah ini hidup. Di dalamnya ada ekosistem yang kompleks dan masyarakat adat yang hidupnya bersimbiosis dengan alam. Menggantungkan napas pada hutan.
“Ini bukan sekadar soal pangan dan energi. Ini soal keadilan ekologis, keberlangsungan hidup masyarakat adat, dan masa depan lingkungan Indonesia,”
tegasnya lagi.
Sejarah, menurutnya, sudah memberikan pelajaran yang mahal. Pendekatan pembangunan dengan membabat hutan secara masif hampir selalu berakhir sama: bencana ekologi, konflik lahan yang tak kunjung usai, dan keretakan sosial yang dalam. Pola itu sudah terbukti gagal.
Karena itu, dia mendesak pemerintah untuk menghentikan rencana ini. Tidak ada jalan lain selain membuka dialog yang benar-benar melibatkan masyarakat adat setempat, para pegiat lingkungan, dan tentu saja publik. Soal ketahanan pangan dan energi memang penting, tapi tidak boleh dibangun di atas penderitaan manusia dan kehancuran alam.
Peringatannya terakhir terdengar seperti sebuah ramalan suram.
“Jika pola lama ini terus diulang, Papua akan bernasib sama seperti Kalimantan dan Sumatera: hutan habis, rakyat tersisih, dan negara mewariskan krisis ekologis kepada generasi mendatang,”
pungkas Gus Murtadho. Suara yang mengingatkan kita semua tentang harga sebuah pembangunan.
Artikel Terkait
KPK Amankan USD 50 Ribu dalam Penggeledahan Kasus Suap Sengketa Lahan di PN Depok
BMKG Makassar Peringatkan Potensi Hujan dan Angin Kencang di Sulsel Rabu Depan
Anggota DPR Tekankan Peran Strategis Dewan Pengawas BPJS yang Baru Dilantik
Pasar Cidu Makassar Bertransformasi dari Pasar Ikan Jadi Destinasi Kuliner Malam