Ketika Cinta Dinilai Berlebihan: Dilema Perempuan dalam Ruang Emosi yang Tak Setara

- Sabtu, 27 Desember 2025 | 06:06 WIB
Ketika Cinta Dinilai Berlebihan: Dilema Perempuan dalam Ruang Emosi yang Tak Setara

Dalam banyak hubungan, perempuan jarang sekali merasa benar-benar aman. Coba bayangkan: saat mereka memberi cinta sepenuh hati, langsung dibilang 'berlebihan'. Tapi ketika memilih untuk diam dan menjaga jarak, malah dicap tidak peduli. Dua kutub itu seperti jebakan. Di antaranya, perempuan terus didorong untuk menyesuaikan diri bukan untuk hubungan yang lebih baik, tapi demi kenyamanan orang lain.

Kata "berlebihan" itu sendiri terdengar sederhana, seolah netral. Namun dalam kenyataannya, istilah itu sering jadi senjata. Senjata untuk menghakimi cara perempuan merasakan, mengekspresikan, dan memperjuangkan cintanya. Ini bukan cuma penilaian biasa. Lebih dari itu, ini adalah bentuk penertiban emosional. Sebuah cara halus untuk bilang bahwa perasaan perempuan itu terlalu banyak, terlalu dalam, dan akhirnya… terlalu merepotkan.

Dalam keseharian, tuduhan ini muncul dengan banyak wajah. Perempuan yang peduli dianggap posesif. Yang bertanya soal masa depan dinilai terlalu menuntut. Menginginkan kejelasan? Itu tanda tidak sabar. Bahkan kesedihan dan kecemasan mereka sering dianggap sekadar drama. Seolah-olah cinta itu cuma boleh ada selama tidak mengganggu ritme hidup dan kebebasan pihak lain.

Padahal, bagi banyak perempuan, mencintai itu melibatkan seluruh hati. Mereka melakukannya dengan perhatian penuh, konsisten, dan punya keinginan kuat untuk membangun kedekatan yang aman. Cinta bukan cuma perasaan, tapi juga tanggung jawab. Dalam relasi, perempuan sering mengambil peran sebagai penjaga emosi, perawat luka, penopang stabilitas pekerjaan yang melelahkan tapi jarang sekali diakui sebagai kontribusi.

Nah, ironisnya justru di sinilah masalahnya. Ketika cinta yang mereka beri mulai membutuhkan timbal balik kehadiran yang konsisten, komunikasi jujur, komitmen yang jelas barulah itu dianggap terlalu berat. Pada titik ini, cinta tidak lagi dirayakan, melainkan dihindari. Kata "berlebihan" tiba-tiba jadi dalih yang pas untuk menjauh, tanpa perlu merasa bersalah.

Budaya patriarki, mau tidak mau, memperkuat ketimpangan ini. Dari kecil, perempuan dibesarkan untuk peka dan empati. Tapi di saat bersamaan, mereka juga diharapkan tetap rasional, tenang, dan tidak emosional. Kontradiksi ini menjebak. Mereka diminta merasakan lebih dalam, tapi dihukum saat perasaan itu akhirnya terlihat.

Akibatnya, ekspresi emosi perempuan sering dianggap tidak sah. Tangis dilihat sebagai kelemahan. Amarah dicurigai sebagai tanda ketidakstabilan. Kecemasan? Itu berlebihan. Label-label ini bukan cuma meremehkan, tapi juga membangun narasi beracun: bahwa perasaan perempuan selalu perlu dikoreksi, diredam, atau disederhanakan.

Dalam hubungan yang timpang, istilah "berlebihan" jarang muncul saat cinta perempuan itu menguntungkan. Ia baru keluar saat cinta itu mulai meminta ruang, kejelasan, dan keseriusan. Intinya, "berlebihan" bukan soal seberapa besar cintanya, tapi lebih tentang siapa yang merasa terganggu. Begitu perempuan berhenti menyesuaikan diri, label itu langsung dipakai sebagai alat kontrol.

Dampaknya? Besar. Banyak perempuan tumbuh dengan kebiasaan meragukan emosinya sendiri. Mereka meminta maaf untuk perasaan yang seharusnya sah. Menahan tangis, mengecilkan kebutuhan, membungkam luka semua agar tidak dicap terlalu sensitif. Lama-kelamaan, hubungan seperti ini bukan cuma melukai, tapi mengikis harga diri perlahan-lahan.

Cinta pun akhirnya dipahami secara keliru. Bukan sebagai ruang aman untuk tumbuh bersama, melainkan arena kompromi sepihak. Perempuan diminta mencintai dengan sepenuh hati, tapi tidak boleh menuntut balasan. Ketika segalanya jadi sepihak seperti ini, yang sebenarnya berlebihan bukanlah perasaannya, melainkan ketimpangan itu sendiri.

Padahal, intensitas emosi bukan lawan kedewasaan. Hubungan yang dewasa bukan yang sunyi dari perasaan, tapi yang mampu menampung emosi tanpa langsung menghakimi. Cinta yang sehat tidak memaksa seseorang terus menyesuaikan diri. Ia justru memberi ruang agar kedua pihak bisa hadir seutuhnya.

Sudah waktunya cara pandang ini diubah. Kita harus berhenti menilai cinta dari seberapa pandai seseorang menahan diri. Mulailah menilainya dari seberapa adil hubungan itu memperlakukan emosi. Perempuan tidak mencintai secara berlebihan. Mereka selama ini justru dipaksa mencintai dalam batas-batas yang ditentukan orang lain.

Menyebut cara perempuan mencintai sebagai 'berlebihan', tanpa mau paham konteksnya, cuma akan melanggengkan ketimpangan emosional. Yang perlu dikoreksi bukan kedalaman cinta mereka, melainkan standar hubungan yang selalu memihak pada kenyamanan sepihak. Sejatinya, cinta tidak pernah berlebihan. Yang sering kali berlebihan justru tuntutan agar perempuan terus mengecilkan dirinya, hanya agar dianggap 'wajar'.

Editor: Yuliana Sari

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar