Jambu dari Geunting: Kisah Ketangguhan di Balik Senyum Pak Razali

- Selasa, 23 Desember 2025 | 18:00 WIB
Jambu dari Geunting: Kisah Ketangguhan di Balik Senyum Pak Razali

Lewat unggahan di Instagram pribadinya, Fery Farhati, istri Anies Baswedan, membagikan cerita sederhana yang sarat makna. Cerita ini berawal dari kunjungan Anies ke Aceh.

Sepulang dari sana, suaminya itu membawa oleh-oleh yang tak biasa: sekarung jambu. Bukan sembarang jambu. Buah itu didapat dari seorang penjual yang berpapasan dengannya saat menuju masjid untuk shalat Jumat di Desa Geunting, Kabupaten Pidie Jaya.

Penjual itu bernama Pak Razali. Menurut cerita yang dibawa pulang Anies, pria itu mengangkut sekarung jambu di boncengan motornya yang masih belepotan lumpur. Motor itu hendak ia pakai untuk menjual hasil buminya.

Keadaan Pak Razali sebenarnya memprihatinkan. Rumahnya terendam lumpur, hartanya pun habis. Namun, yang menarik perhatian Anies bukanlah kesedihannya. Justru sebaliknya. Wajah Pak Razali tampak tegar, dengan senyum yang tetap merekah saat bercerita. Seolah beban berat itu tak menggerus semangatnya untuk berjuang.

Anies kemudian meminta istrinya untuk mengemas jambu-jambu itu. Buahnya tak semuanya mulus, tapi punya nilai lebih. Ini adalah jambu yang ditanam dan dipanen oleh tangan-tangan korban bencana. Bencana yang, dalam pandangan mereka, terjadi akibat kelalaian dalam menjaga lingkungan selama bertahun-tahun.

Dalam pesannya, Anies menyelipkan ajakan.

"Mari kita tuntaskan inisiatif warga bantu warga. Terima kasih,"

tulisnya kepada para sahabat, seperti yang dikutip Fery.

Unggahan itu juga disertai dua foto. Satu foto menunjukkan sekarung jambu yang masih utuh, sementara foto lainnya memperlihatkan jambu-jambu yang telah dikemas rapi di dalam wadah, siap untuk dibagikan.

Cerita singkat ini, lewat gaya bertutur Fery yang hangat, tak cuma sekadar liputan biasa. Ia menyiratkan dukungan, solidaritas, dan kritik halus terhadap pengelolaan lingkungan, semua dibungkus dalam kisah manusiawi tentang ketangguhan seorang petani Aceh.

Editor: Hendra Wijaya

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar