Ironi Negeri: Antara Kesulitan Pangan dan Penghambur-hamburan Pangan
Bayangkan suasana di sejumlah wilayah Sumatera pasca banjir bandang. Di sana, korban masih berjuang. Mereka berjibaku dengan keterbatasan yang nyata, di mana mi instan jadi santapan berhari-hari untuk balita dan anak-anak. Sementara itu, bantuan logistik dan dapur umum belum juga bisa menjangkau semua titik yang membutuhkan. Situasinya memang memprihatinkan.
Namun begitu, di sisi lain negeri ini, ada sebuah ironi yang terpampang jelas dan sulit untuk diabaikan. Program Makan Bergizi Gratis (MBG) bagi siswa ternyata tetap berjalan meski sekolah sedang libur. Makanan dibagikan dalam bentuk kering, dirapel untuk beberapa hari ke depan. Seolah-olah program ini tak boleh berhenti, walau konteksnya sudah berubah total.
Keanehannya jelas: kalau anak-anak libur, kenapa programnya tidak ikut libur juga?
Alasan-alasan teknis yang dikeluarkan terdengar dipaksakan. Seperti ada upaya untuk memastikan anggaran terserap dan catatan program tetap "berjalan". Bahkan, menurut sejumlah saksi, muncul situasi di mana anak atau orang tua harus datang ke sekolah di masa libur hanya untuk mengambil paket MBG itu meski dikatakan tidak wajib. Rasanya janggal, bukan?
Ini bukan soal anak-anak yang menerima makanan.
Artikel Terkait
Macet Parah Landa Tanjung Bunga Imbas Pensi Smansa 2026 yang Dihadiri Ribuan Penonton
Timnas Indonesia Hancurkan Saint Kitts dan Nevis 4-0, Lolos ke Final FIFA Series 2026
Gubernur Sulsel Bahas Kerja Sama Pendidikan dan Investasi dengan Pejabat AS
Menteri Keuangan Setuju Efisiensi Program Makan Bergizi, Kualitas Dijamin Tak Turun