Joko Widodo Lain: Dari Kuliah di UGM hingga Jadi Otak di Balik Penanganan Bencana

- Selasa, 09 Desember 2025 | 18:40 WIB
Joko Widodo Lain: Dari Kuliah di UGM hingga Jadi Otak di Balik Penanganan Bencana

Joko Widodo Ternyata Lulus UGM Tahun 1999

Namanya Joko Widodo. Iya, betul. Kamu nggak salah baca. Tapi jangan buru-buru heboh, karena lelaki yang satu ini bukan mantan presiden yang akrab disapa Jokowi. Ini Joko Widodo yang lain. Dunianya bukan Istana, melainkan laboratorium, citra radar, dan tumpukan laptop yang kipasnya meraung-raung setiap kali file satelit dibuka. Buat teman-temannya, dia cuma Jecko.

Asalnya dari Kulon Progo. Masa SMA dihabiskannya di Tirtonirmolo, sekolah yang kalau kamu tanya ke alumninya, pasti ada cerita tentang si jago bola, si pelawak kelas, atau si tukang tidur. Setelah itu, Jecko memutuskan untuk kuliah di UGM, mengambil jurusan Geografi. Dia lulus di tahun 1999. Lalu, seperti kebanyakan orang baik-baik yang nggak punya ambisi jadi selebgram, dia memilih jalan akademik jalur yang panjang dan jarang dapat tepuk tangan.

Gelar sarjana ternyata belum cukup. Jecko melanjutkan studi S2 Ilmu Lingkungan di Universitas Indonesia. Hidup memang suka membawa orang ke tempat yang tak terduga, dan baginya, tempat itu adalah Jepang. Di Chiba University, dia menyelesaikan program doktoralnya pada 2020, dengan fokus pada Computer Science and Information Processing, khususnya radar dan penginderaan jauh. Bidang yang, kalau dijelaskan ke orang tua, biasanya cuma dibalas dengan, "Oalah, yang penting ngerti peta, ya?"

Bertahun-tahun kemudian, kerja Jecko berpusat pada satelit, radar SAR, perubahan permukaan tanah, dan analisis risiko bencana. Hal-hal yang terdengar sangat teknis dan jelas nggak cocok jadi bahan obrolan ringan di grup keluarga. Tapi justru di situlah nilai pentingnya. Ilmu semacam ini seringkali hanya bersemayam di jurnal-jurnal internasional, jauh dari sorotan media mainstream.

Semuanya berubah menjelang akhir 2025. BRIN menunjuk Jecko sebagai ketua gugus tugas penanganan bencana di Sumatera. Tugasnya jauh lebih dari sekadar meninjau lokasi dan mengangguk prihatin. Dia memimpin tim yang mengandalkan data satelit untuk memetakan genangan air, memantau pergerakan tanah, dan membaca situasi alam bahkan saat cuaca sedang paling buruk. Sentinel 1 bekerja, Jecko mengolah datanya, dan hasilnya membantu publik mengetahui area mana yang paling mendesak butuh pertolongan.

Jecko mengingatkan kita bahwa Indonesia tidak cuma punya tokoh-tokoh politik yang namanya terus disebut. Ada juga ilmuwan seperti dia, yang kerjanya senyap tapi dampaknya terasa nyata. Kalau Jokowi dulu blusukan ke pasar, Jecko ini seperti versi lain yang blusukan ke data radar. Satu bermain di panggung politik, satunya lagi bermain di peta, citra satelit, dan urusan kemanusiaan.

Pada akhirnya, keduanya adalah anak bangsa. Selamat bekerja, Mas Jecko. Salam untuk Joko Widodo yang satu ini!

(By Setiya Jogja)

Editor: Handoko Prasetyo

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar

Terpopuler