Pendukung Prabowo, Jangan Jadi Penjilat Gratisan

- Minggu, 21 Desember 2025 | 16:20 WIB
Pendukung Prabowo, Jangan Jadi Penjilat Gratisan

Sebuah Kritik untuk Sesama Pendukung Prabowo

Oleh: Budi Saks

Mendukung seseorang bukan berarti kita harus membenarkan segala tindakannya. Saya mengkritik justru karena ingin pemerintahan ini berjalan baik. Kalau kita terus membela setiap kesalahan, bukannya membantu, malah bisa menjerumuskan.

Bayangkan dalam berteman. Kalau kawan kita salah, tentu kita ingatkan, bukan malah ikut-ikutan membenarkan.

Nah, soal bagaimana kritik itu diterima, itu sepenuhnya bergantung pada kualitas orang yang dikritik. Dalam hal ini, ya, kita sesama pendukung.

Namun begitu, harus diakui, sebagian dari kita masih terbawa suasana panas pilpres. Akibatnya, kritik apa pun, sekalipun disampaikan dengan data yang jelas, langsung dianggap sebagai serangan. Padahal, niatnya kan mengawal.

Memang, dalam setahun terakhir ada banyak kemajuan yang patut diapresiasi. Tapi di sisi lain, kita juga tidak boleh menutup mata. Ada kelambanan, terutama dalam penanganan bencana yang baru-baru ini terjadi.

Yang bikin miris, begitu kita sebut kata "kelambanan", langsung disangka kita bilang pemerintah tidak bekerja sama sekali. Untuk menangkap makna sebuah kalimat saja, kok, susah banget?

Inilah akar masalahnya: fanatisme. Kita tidak boleh fanatik buta terhadap siapa pun, apalagi terhadap manusia. Prabowo tetaplah manusia biasa, yang bisa salah dan khilaf. Begitu juga dengan para menterinya.

Justru karena itulah, kewajiban kita sebagai pendukung adalah mengawasi dengan kritis. Bukan malah mengkultuskan, menjadikan mereka seperti manusia maksum yang tak pernah alpa. Jangan sampai kita seperti kaum fanatik lain yang sebut saja sampai menyembah pemimpinnya.

Ada satu hal lagi yang mengkhawatirkan. Konon, informasi yang sampai ke presiden sekarang ini cuma lewat satu pintu: Seskab, Tedy Indra Wijaya. Dia yang seolah berhak memilah, mana info yang layak disampaikan dan mana yang tidak.

Kalau begini, presiden bisa merasa semua instruksinya sudah berjalan mulus. Padahal, kenyataannya di lapangan? Belum tentu.

Maka, jadilah pendukung yang cerdas. Bukan penjilat gratisan yang masih terbawa ego karena menang pilpres. Tabiat seperti ini persis suporter bola yang ngamuk kalau timnya kalah. Kita kan sudah menang pilpres, tapi kok masih bersikap seperti itu? Sungguh tidak dewasa.

Atau jangan-jangan, secara tidak sadar, Anda sudah menganggap Prabowo seperti nabi, dan para menterinya adalah murid-murid yang mulia?

Oh, come on…

~DBS~

"Diambil dari sebuah unggahan media sosial.

Komentar