Malam Sabtu di Pasar Pundensari, Desa Wisata Gunungsari, Madiun, seharusnya diisi dengan obrolan. Rencananya, diskusi buku Reset Indonesia bakal digelar pukul tujuh malam, 20 Desember 2025. Panggung sudah berdiri, peserta mulai berdatangan. Tapi ternyata, acara itu harus berakhir sebelum benar-benar dimulai.
Yang datang bukan hanya warga. Camat, lurah, sekretaris desa, ditambah Babinsa dan polisi dari Polsek setempat tiba-tiba muncul di lokasi. Mereka meminta kegiatan dihentikan. Padahal, diskusi ini diinisiasi komunitas warga dan menghadirkan langsung tim penulisnya: Dandhy Laksono, Farid Gaban, Yusuf Priambodo, dan Benaya Harobu.
Alasannya soal perizinan. Kata aparat, acara tak punya izin resmi. Ini bikin panitia bingung, karena mereka mengaku sudah mengirimkan surat pemberitahuan ke Polsek Madiun sebelumnya. Permintaan itu, ya, praktis membatalkan semuanya.
Buat tim penulis, kejadian di Madiun ini memang aneh. Sejak diluncurkan Oktober lalu, Reset Indonesia sudah didiskusikan di sekitar 45 titik. Puluhan forum berjalan lancar. Baru di sini, untuk pertama kalinya, acara berujung pada pembubaran paksa.
Artikel Terkait
Pelaku Diduga Kabur ke Gunung Kidul, Polisi Buru Anak Korban Pembunuhan Ibu Sendiri
Prabowo Jelaskan Langkah Indonesia di Dewan Perdamaian AS, Dapat Dukungan Penuh Ormas Islam
Rocky Gerung Soroti Republik Tanpa Jiwa: Hanya Bentuk, Isinya Feodalisme
BMKG Waspadai Bibit Siklon Tropis 94W yang Mengancam Indonesia Timur