Lain cerita untuk pengendara sepeda motor. Mereka memilih tak ikut antre. Menurut sejumlah saksi, banyak yang nekat menyeberangi aliran sungai langsung tentu saja, hanya saat debit air terlihat surut. Risiko? Ya, itu urusan belakangan. Sementara untuk mobil atau kendaraan roda empat, impian untuk lewat sama sekali pupus. Badan jalan dan jembatan utamanya masih rusak parah.
Dampaknya terasa di segala lini. Aktivitas warga jadi serba sulit, mulai dari urusan ekonomi, anak-anak sekolah, sampai yang butuh layanan kesehatan. Mau ke pusat kota Takengon? Pilihannya cuma dua: mengambil jalur memutar yang jauhnya bukan main, atau menunggu sungai sedang baik hati untuk diseberangi.
Antrean panjang pun jadi pemandangan sehari-hari, terutama saat jam-jam sibuk di pagi dan sore hari. Mobilitas warga memuncak, sementara akses justru menyempit. Sebuah ironi yang mereka hadapi setiap hari, sebulan setelah bencana melanda.
Artikel Terkait
Pemprov Kaltim Pastikan Dana Mobil Dinas Rp8,5 Miliar Dikembalikan
PSSI Umumkan 24 Pemain Timnas Indonesia untuk FIFA Series, Klok dan Egy Tak Masuk
Kakak Ipar Ancam Pakai Parang, Korban Tewas Jatuh Saat Kabur di Makassar
Wali Kota Makassar Ajak Warga Pererat Silaturahmi di Idul Fitri