Di Abu Dhabi, dalam forum Majelis Persaudaraan Manusia yang bergengsi, Megawati Soekarnoputri berbicara lantang. Suaranya mengisi ruang Museum Nasional Zayed, Selasa lalu. Acara itu bagian dari Zayed Award, dan dihadiri sederet pemimpin dunia serta aktivis global.
Sebagai Ketua Umum PDIP dan mantan Presiden RI, Megawati bicara soal kepemimpinan perempuan. Menurutnya, ada kekuatan khas di sana. Kekuatan yang berakar pada empati dan naluri untuk merawat, bukan sekadar menguasai.
“Sebagai seorang perempuan, saya membawa keyakinan bahwa kepemimpinan bukan tentang dominasi, melainkan tentang upaya merangkul dan merawat, serta bukan menindas,” ujar Megawati.
Ia lalu menengok ke belakang, ke masa awal 2000-an saat Indonesia masih goyah. Saat itulah ia memimpin. Pengalaman meredam konflik di Poso dan Ambon jadi bukti nyata. Caranya? Dialog dan rekonsiliasi, bukan represi.
“Dalam situasi waktu itu, sebagai kepala negara saya membawa negara hadir bukan sebagai kekuatan represif, melainkan sebagai penjamin rekonsiliasi dengan semangat kekeluargaan,” ungkapnya.
Nah, prinsip itu, kata Megawati, selaras dengan nilai-nilai Pancasila. Bagi dia, Pancasila bukan cuma simbol mati. Itu adalah bintang penuntun yang hidup, yang menjaga Indonesia tetap utuh dalam keberagaman.
“Pancasila berfungsi sebagai dasar berpijak dan bintang penuntun ke mana arah dan perjalanan bangsa Indonesia,” tegasnya.
Ia pun teringat pesan ayahnya, Bung Karno. Pesan yang menurutnya masih relevan hingga kini.
“Ayah saya, Bung Karno yang merupakan Pendiri dan Proklamator serta Presiden Pertama bangsa kami, menegaskan bahwa Indonesia bukan didirikan untuk satu golongan, satu agama, atau satu suku, melainkan ‘satu untuk semua, semua untuk satu’. Prinsip inilah yang menjadi fondasi etik kepemimpinan nasional kami,” urai Megawati.
Di sisi lain, ia punya pesan khusus untuk para perempuan. Jangan terjebak, katanya, pada pilihan hitam-putih antara peran di rumah dan di masyarakat. Itu dilema palsu.
“Saya ingin mengingatkan kembali agar perempuan tidak terjebak dalam dilema palsu antara rumah dan masyarakat. Yang dibutuhkan adalah manajemen waktu, komunikasi yang setara dengan pasangan hidup, serta dukungan struktural dari negara dan lingkungan sosial,” kata Megawati.
Refleksi pribadinya pun mengalir. Ia bercerita tentang bagaimana latar belakang keluarganya membentuknya. Ayahnya presiden, ibunya dari etnis berbeda. Semua itu, ditambah keyakinan dan etika, membentuknya jadi seperti sekarang.
“Sebagai pemimpin, maka saya menjadi seorang yang dijadikan oleh orang tua saya, bapak saya seorang presiden, tentu ibu saya seorang First Lady, yang datang dari etnis yang berbeda, yang membuat saya tetapi sekarang menjadi manusia yang seperti ini, itu adalah karena keyakinan, keteguhan, keuletan, keberanian, dan kesabaran, dipadu dengan etika moral dan hati nurani,” katanya.
Di akhir, ia menegaskan inti dari semua pembicaraan ini. Kepemimpinan perempuan, pada akhirnya, adalah soal menyatukan peran dan memberi kontribusi nyata. Bukan cuma soal jabatan.
“Ketika perempuan menghadirkan nilai kemanusiaan, empati, dan keadilan dalam seluruh ruang hidupnya, kepemimpinan tidak lagi semata soal jabatan, melainkan kontribusi nyata bagi terwujudnya yang dicita-citakan kita bersama, yaitu Human Fraternity, sebagaimana dicita-citakan oleh para pendiri bangsa di mana pun juga, dan relevan bagi masa depan peradaban global,” urainya.
Forum itu sendiri dihadiri banyak tokoh. Ada Presiden Timor Leste Ramos Horta, sejumlah Ibu Negara, dan aktivis dari berbagai negara. Megawati sendiri tampak didampingi putranya, Muhammad Prananda Prabowo, serta Ahmad Basarah dari DPP PDIP dan Dubes RI untuk UEA, Judha Nugraha.
Artikel Terkait
Polres Lamandau Gagalkan Penyelundupan 35 Kg Sabu dan 15 Ribu Pil Ekstasi di Perbatasan Kalimantan
Nasib Mikel Arteta di Arsenal Bergantung pada Trofi Musim Ini
Sengketa Lahan 400 Hektare di Luwu Timur: Warga Penggarap Berhadapan dengan Sertifikat HPL Pemda
Harga Emas Antam Turun Rp40.000 per Gram, Buyback Anjloh Rp51.000