Kekuatan Doa Ibu: Dari Air Mata Hingga Hidayah yang Menyentuh

- Sabtu, 20 Desember 2025 | 16:25 WIB
Kekuatan Doa Ibu: Dari Air Mata Hingga Hidayah yang Menyentuh

Tanggal 22 Desember, kita kembali mengenang Hari Ibu. Bukan sekadar peringatan biasa, tapi momen yang mengingatkan betapa dahsyatnya pengaruh seorang ibu dalam kehidupan anak. Ibu adalah pintu menuju surga bagi anak-anaknya. Lebih dari itu, doa-doa yang dipanjatkannya punya kekuatan luar biasa, menjadi sumber energi untuk meraih kesuksesan, baik di dunia maupun di akhirat.

Bayangkan sebuah malam. Seorang ibu menyaksikan sikap buruk anaknya. Hati seorang ibu mana yang tak sedih? Di penghujung malam, dalam kesunyian, ia pun berdoa. Ia memohon pada Allah SWT agar anak kesayangannya itu diberi hidayah, menjadi manusia yang berguna.

Doa itu ia ulang-ulang, detik demi detik, hingga fajar menyingsing. Saat muadzin mengumandangkan "ash-shalatu khairum minan-naum" shalat itu lebih baik daripada tidur tiba-tiba terdengar suara langkah kaki dari lantai atas. Suara itu mendekat perlahan ke arah kamarnya.

Sang ibu mengangkat kepala. Dan ternyata, itu adalah anaknya. Di tangan sang anak, masih basah bekas air wudhu. Tanpa sepatah kata pun, anak itu mengecup kening ibunya, lalu bergegas pergi untuk shalat Subuh.

Melihat perubahan drastis itu, sang ibu hanya bisa terdiam. Matanya berkaca-kaca, hati penuh haru, menyaksikan langkah anaknya yang perlahan menjauh. Sejak kejadian itu, anak tersebut berubah total. Ia menjadi pribadi yang saleh dan taat beribadah. Allahu Akbar.

Nah, dari kisah itu kita bisa belajar. Doa seorang ibu itu memang luar biasa kuatnya. Ia adalah energi tersembunyi yang seringkali tak terjangkau logika, dan bisa mendatangkan perubahan secara tiba-tiba. Dalam catatan sejarah pun, doa kerap menjadi faktor penentu di balik berbagai keberhasilan.

Seperti kata Dr. Alexis Carrel,

"Doa adalah bentuk energi paling kuat yang bisa dihasilkan manusia. Maka, isilah hidup ini dengan doa."

Pernyataan itu sangatlah benar. Terutama jika doa itu datang dari ketulusan hati seorang ibu. Penulis sendiri merasakannya.

Ceritanya, di akhir tahun 2007, istri saya berkesempatan menunaikan ibadah haji. Padahal, kalau dihitung-hitung, gaji kami sebagai guru swasta jelas tak cukup untuk biaya itu. Waktu itu, saya punya keinginan menyelesaikan S2, sementara istri ingin berhaji. Kami pun berdoa setiap malam. Ibu juga tak henti mendoakan kami.

Dan alhamdulillah, keinginan itu terkabul. Istri berangkat haji di 2007, dan saya wisuda S2 di awal 2008.

Masih ada lagi. Pada Juni 2010, kami bertiga saya, istri, dan ibu bisa berangkat umrah. Awalnya, rencananya cuma istri dan ibu yang berangkat karena biaya terbatas. Tapi, lagi-lagi terjadi keajaiban.

Ceritanya begini. Suatu pagi, sekitar pukul delapan, saya sedang membantu mereka mengurus paspor. Datanglah seorang tamu ke rumah. Kami mengobrol banyak hal, termasuk rencana umrah itu. Di luar dugaan, tamu tersebut kemudian memberi semacam "stimulan" agar saya ikut serta menemani mereka.

Yang mengharukan, saat kami mempersiapkan perjalanan, ibu bercerita. Rupanya, beliau selalu berdoa setiap malam agar bisa berangkat umrah bertiga. Doa itu dikabulkan. Bahkan, berkat doa ibu pula, saya kemudian bisa berhaji di 2011, dan istri berhasil menyelesaikan S2-nya.

Itulah secuil pengalaman tentang kekuatan doa seorang ibu yang saya rasakan sendiri.

Semoga Allah membimbing kita semua. Sebagai anak, kita dimampukan untuk memuliakan orang tua. Dan sebagai orang tua, kita diberi kemampuan mendidik anak agar kelak mereka pun bisa memuliakan kita. Amin.

Imam Nur Suharno, Kepala Divisi Humas dan Dakwah Pesantren Husnul Khotimah, Kuningan, Jawa Barat.

Komentar