Sepuh Yogya Setia Kayuh Onthel Demi Lestarikan Bahasa Jawa

- Sabtu, 20 Desember 2025 | 11:42 WIB
Sepuh Yogya Setia Kayuh Onthel Demi Lestarikan Bahasa Jawa

Rambutnya sudah sepenuhnya putih, tapi sorot matanya masih tajam dan semangatnya tak kunjung padam. Bambang Saparyono, pensiunan PNS Balai Kota yang kini berusia 69 tahun, tetap terlihat bugar. Usia, baginya, cuma angka. Angka itu sama sekali tak menghalanginya untuk tetap setia mengayuh sepeda onthel tuanya.

Dan di setiap kayuhan itu, terselip sebuah misi yang ia genggam erat: melestarikan Bahasa Jawa.

Tiga hari dalam seminggu tepatnya Selasa, Kamis, dan Sabtu Bambang rutin "mangkal". Lokasinya strategis, di kawasan Titik Nol Yogyakarta, persis di antara Benteng Vredeburg dan Gedung Agung Istana Kepresidenan. Dari rumahnya di Loano, ia bersepeda sejauh tiga kilometer untuk sampai ke sana.

Seperti pada sebuah Sabtu di penghujung tahun, misalnya. Hiruk-pikuk wisatawan sudah mulai memadati jalanan Yogya. Tapi di tengah keramaian itu, Bambang tetap konsisten dengan ritualnya.

Onthelnya diparkirkan. Di jok belakang, terpancang rak sederhana berjajar novel dan cerita cekak semua dalam Bahasa Jawa. Buku-buku itu adalah karyanya sendiri, hasil ketekunannya menulis selama beberapa tahun terakhir. Siapa pun boleh membacanya. Gratis.

Kehadiran pria sepuh dengan sepeda tua dan rak buku itu kerap mencuri perhatian. Ada yang sekadar melirik, ada yang tertarik membaca sebentar, tak sedikit pula yang menjadikannya latar foto yang unik. Bagaimanapun reaksi orang, bagi Bambang, ini adalah caranya untuk menjaga bahasa ibunya tetap hidup.

Dimulai dari Sebuah Keprihatinan

Bambang sebenarnya sudah akrab dengan dunia tulis-menulis sejak kuliah di Farmasi UGM dulu. Masa mudanya dihiasi dengan tulisan-tulisan opini yang kerap dimuat koran.

Tapi menulis dalam Bahasa Jawa? Itu hal baru. Baru sekitar tahun 2021 ia serius mendalaminya.

"Saya bikin cerita cekak, cerita pendek. Lalu saya posting di Facebook," kisahnya.

Dorongan itu muncul dari sebuah kejadian yang menyentuh hatinya. Ia prihatin melihat anak-anak zaman sekarang yang kesulitan menggunakan Bahasa Jawa krama atau bahasa halus dengan tepat.

"Ketika saya di masjid itu, anak-anak ngajak ngobrol saya pakai ngoko. Tergerak lah hati saya," kenang Bambang.

Momen di masjid itulah yang kemudian ia tuangkan dalam cerita pendek di Facebook. Tulisannya pun kian berkembang, terutama yang membahas unggah-ungguh basa atau tata krama berbahasa.

"Sudah saya arahkan, seseorang harus basa (berbahasa krama) dengan siapa, dengan bahasa bagaimana," bebernya.

Menulis cerita dengan beragam karakter mengharuskannya berperan sebagai manusia dari berbagai usia. Tulisannya berusaha memberi pencerahan: bagaimana anak berbicara kepada yang lebih tua, bagaimana orang dewasa berinteraksi, hingga cara orang tua menggunakan bahasanya.

"Maksudnya ke orang yang lebih tua harus halus. Kalau ke yang setara, bahasa Jawa biasa. Kalau ke anak kecil, justru kita yang harus lebih halus, sebagai contoh buat mereka," paparnya.

Uniknya, setiap tulisannya selalu berlatar belakang Yogyakarta. Jadi, dialek yang mengalir di tulisannya tetap autentik, dialek Yogya asli.

Dari Facebook ke Buku Cetak

Respon terhadap postingannya ternyata cukup besar. Banyak yang tertarik. Dari sanalah, Bambang terpikir untuk menerbitkan tulisannya dalam bentuk buku.

Hingga kini, sudah tujuh buku yang ia terbitkan. Beberapa judulnya antara lain Liburan Menyang Desa, Ati Dudu Watu, sampai Ontran-ontran Pucanganom.

Bahkan, karyanya tak sekadar terbit. Cerita cekak berjudul Warnaning Urip berhasil menyabet penghargaan dari Balai Bahasa DIY untuk kategori Sastra Jawa 2024. Buku lain, Aja Ambeg-Siya, juga meraih prestasi serupa.

Tema yang ia angkat beragam. Mulai dari kisah keluarga, cerita anak, yang klasik, hingga cerita remaja. "Semua saya coba," ujarnya singkat.

Buku-buku ini ia cetak secara mandiri. Untuk mencetak 50 eksemplar, ia mengeluarkan kocek sekitar tiga juta rupiah. Ini bukan soal cari untung. Murni demi kecintaannya pada Bahasa Jawa.

"Satu judul, Aja Ambeg-Siya, malah diambil alih Balai Bahasa. Itu cerita bergambar dwibahasa untuk anak-anak," katanya.

Konsistensi adalah kuncinya. Setiap Jumat sore, satu episode baru selalu ia unggah. Dalam setahun, terkumpullah 52 episode cukup untuk dua buku.

Membawa Buku dengan Onthel

Aktivitas membagikan bacaan gratis ini baru dimulai Maret 2024 lalu. Awalnya ia coba di Alun-alun Kidul. Ramai sih, tapi orang-orang lalu lalang, tak ada yang benar-benar berhenti membaca.

Ia pindah ke depan Malioboro Plaza. Ada yang membeli bukunya, tapi lagi-lagi, tak ada yang nongkrong untuk membaca di tempat.

Berdasarkan saran anaknya, akhirnya Bambang mencoba lokasi sekarang: kawasan Nol Kilometer. "Di sini banyak yang nongkrong," ujarnya.

"Nggak selalu ramai yang baca. Tapi kadang-kadang bisa sampai lima enam orang. Bacanya sebentar saja biasanya. Tapi ada satu dua orang yang ajeg, datang beberapa hari hanya untuk baca satu episode lanjutannya," beber Bambang.

Ia sengaja menerapkan aturan "satu kali baca satu episode". Ada tujuannya. Aktivitasnya ini ia jalankan dari pukul tujuh sampai sembilan pagi.

"Biar mereka balik lagi baca lanjutannya. Dan biar bukunya bisa bergantian dibaca orang lain," jelasnya.

Yang membahagiakan, minat baca tak hanya datang dari warga Yogya. Orang-orang dari luar kota pun kadang tertarik. Bagi Bambang, ini sebuah keberhasilan kecil ia bisa memperkenalkan Bahasa Jawa pada khalayak yang lebih luas.

Ketika ada rombongan siswa sekolah berkunjung ke Benteng Vredeburg, ia tak sungkan menawarkan bukunya. Ia kerap menemui anak-anak yang kesulitan membedakan pelafalan "a" dan "o" dalam Bahasa Jawa.

Kekhawatiran itu ia jawab dengan tindakan. Kini, ia sedang menyusun buku khusus yang memuat pembelajaran pelafalan Bahasa Jawa yang benar.

"Sedang saya susun, baru sampai bab 10. Sengaja nggak saya buat panjang, biar anak-anak nggak bosan," tuturnya.

Bambang bertekad untuk terus konsisten. Menulis, dan membagikan bacaan gratis dari sepeda onthelnya. Dengan cara sederhana inilah ia memilih untuk menyumbang tenaga, demi kelestarian bahasa yang ia cintai.

Editor: Dewi Ramadhani

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar