Kritik Diplomatik untuk Tito: Santun dan Terima Kasih Bukan Sekadar Ucapan

- Sabtu, 20 Desember 2025 | 05:25 WIB
Kritik Diplomatik untuk Tito: Santun dan Terima Kasih Bukan Sekadar Ucapan

Santun dan Berterimakasihlah

Dalam hidup bermasyarakat, ada nilai-nilai dasar yang seharusnya nggak pernah kita lupakan. Salah satunya adalah sikap santun dan rasa menghargai. Coba deh kita renungkan, seberapa sering kita benar-benar menghargai pemberian orang lain? Padahal, di balik setiap pemberian entah itu besar atau kecil selalu ada niat baik, perhatian, dan usaha dari si pemberi. Jadi, meremehkan atau bahkan menghina hadiah yang diberikan orang itu bukan cuma soal melukai perasaan. Itu juga menunjukkan betapa kita kurang etika dan empati.

Santun itu cermin kepribadian, lho. Orang yang santun bakal bisa ngendaliin ucapan dan tingkah lakunya, terutama saat menghadapi situasi yang nggak sesuai ekspektasi. Misalnya, ketika dapet sesuatu yang nggak kita suka. Sikap santun menuntut kita untuk tetap menjaga kata-kata dan ekspresi. Mengucapkan terima kasih adalah langkah awal yang krusial. Ucapan sederhana itu menunjukkan kita menghargai niat baik orang, meski barangnya mungkin nggak cocok dengan selera kita.

Di sisi lain, dampak dari menghina pemberian orang itu luas banget. Bagi si pemberi, hinaan bisa melukai perasaan dan bikin rasa percaya dirinya anjlok. Bayangkan, seseorang sudah meluangkan waktu, tenaga, bahkan uang untuk memberi, tentu berharap pemberiannya diterima dengan baik. Kalau yang dia terima malah cemoohan? Rasa kecewa dan sedih pasti nggak terhindarkan. Hubungan pun bisa rusak, baik itu pertemanan, keluarga, atau ikatan sosial lainnya.

Selain itu, kebiasaan meremehkan pemberian juga mencerminkan sikap kita yang kurang bersyukur. Padahal, rasa syukur itu penting banget untuk bikin hidup lebih tenang dan bahagia. Orang yang terbiasa meremehkan apa yang diterimanya, cenderung selalu merasa kurang dan nggak puas. Lama-lama, sikap ini bisa membentuk karakter yang egois dan sulit menghargai usaha orang lain.

Nah, dalam budaya kita, sopan santun dan tata krama itu dijunjung tinggi. Sejak kecil, kita diajarin untuk berkata baik, menghormati orang lain, dan menjaga perasaan sesama. Mengucapkan terima kasih saat menerima pemberian adalah bagian dari nilai itu. Bahkan dalam banyak ajaran agama, bersyukur dan menghargai kebaikan orang lain sangat dianjurkan. Jadi, menghina pemberian nggak cuma melanggar norma sosial, tapi juga bertentangan dengan nilai moral dan spiritual.

Intinya, nilai sebuah pemberian nggak terletak pada harganya. Yang penting adalah niat dan ketulusan di baliknya. Hadiah sederhana bisa punya makna yang sangat besar kalau diberikan dengan tulus. Sebaliknya, pemberian yang mahal pun bisa terasa hampa kalau niatnya nggak baik. Dengan memahami hal ini, kita pasti lebih mudah menghargai setiap pemberian yang kita terima, sekecil apa pun itu.

Mengajarkan sikap santun dan menghargai ini sebaiknya dimulai dari rumah. Keluarga punya peran besar dalam membentuk karakter anak. Orang tua perlu kasih contoh nyata: mengucapkan terima kasih, nggak mengeluh di depan anak, dan menghargai setiap bentuk perhatian dari orang lain. Dari teladan seperti itu, anak akan belajar bahwa kesantunan bukan cuma ucapan, tapi kebiasaan yang dilakukan dengan tulus.

Di lingkungan sekolah dan masyarakat, nilai-nilai ini juga harus terus ditanamkan. Guru, tokoh masyarakat, dan pemimpin punya peran penting untuk mencontohkan perilaku yang menghargai dan nggak merendahkan orang lain. Lingkungan yang menjunjung tinggi kesantunan akan menciptakan suasana harmonis dan penuh hormat.

Namun begitu, prinsip kesantunan ini nggak cuma berlaku di ranah personal. Ia juga sangat relevan di tingkat yang lebih tinggi, bahkan dalam hubungan antarnegara. Baru-baru ini, pengamat intelijen dan geopolitik Amir Hamzah melontarkan kritik keras terhadap sikap Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian.

Menurut Amir, ucapan dan sikap pejabat setingkat menteri nggak bisa dianggap sebagai ekspresi pribadi semata. Itu selalu membawa simbol dan wibawa negara. Dalam hubungan antarnegara, setiap pernyataan pejabat tinggi punya implikasi diplomatik yang serius.

“Cara Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian itu jelas menyalahi adab. Sikap seperti ini sangat berpotensi memperkeruh hubungan persahabatan antara Indonesia dan Malaysia yang selama ini sudah terbangun dengan susah payah,” kata Amir Hamzah kepada media, Jumat (19/12/2025).

Dia menegaskan, hubungan Indonesia dan Malaysia itu kompleks. Bukan cuma relasi formal, tapi juga punya ikatan historis, kultural, dan strategis yang harus dijaga dengan hati-hati. Oleh karena itu, Amir menilai sangat nggak tepat kalau urusan dalam negeri dicampuradukkan dengan isu yang bersinggungan langsung dengan hubungan bilateral.

“Tito seharusnya memahami batas kewenangan dan etika. Jangan mencampuradukkan kegiatan dan kepentingan dalam negeri dengan urusan yang berkaitan dengan hubungan internasional. Itu bukan tugas dan fungsi Menteri Dalam Negeri,” tegasnya.

Pada akhirnya, bersikap santun dan menghargai pemberian atau dalam skala lebih luas, menghargai hubungan dan kedaulatan adalah wujud kedewasaan emosional dan sosial. Nggak semua hal akan sesuai keinginan kita, tapi kita selalu punya pilihan untuk bersikap baik. Dengan mengucapkan terima kasih dan menjaga sikap, kita nggak cuma menghargai orang lain, tapi juga menjaga martabat diri sendiri. Kesantunan adalah jembatan yang mempererat hubungan, dan rasa syukur adalah kunci hidup yang lebih damai.

Jadi, alangkah lebih elegan dan indah, kalau kita semua bisa lebih santun dan berterima kasih. Tabik.

(ed/jaksat/ata)

Editor: Bayu Santoso

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar