Hidup ini kerap terasa seperti kita terus didorong ke depan. Dulu, saya pernah benar-benar tidak suka dengan diri sendiri. Rasanya, setiap langkah hanya untuk mengecek daftar tugas, bukan bagian dari sebuah perjalanan yang punya arti.
Tapi, di balik semua keriuhan itu, ada satu perjalanan yang jauh lebih penting. Yakni, perjalanan pulang. Bukan ke alamat di peta, tapi ke rumah sejati yang bersemayam di dalam hati kita sendiri.
Dunia yang Terlalu Ramai
Keseharian kita? Mirip seperti arus sungai yang deras. Cepat sekali, kuat, dan hampir tak memberi kesempatan untuk sekadar berhenti mengambil napas. Saya dulu terseret dalam arus itu. Berlari, selalu merasa takut ketinggalan.
Parahnya, semakin kencang saya melangkah, semakin hampa yang terasa. Kepuasan dari sebuah pencapaian itu langka. Soalnya, patokannya selalu kesuksesan orang lain. Kita jadi lupa mengukur diri dengan ukuran kita sendiri.
Merenung ke Dalam
Lalu, sebuah pertanyaan sederhana muncul. "Sebenarnya, siapa sih saya tanpa semua label itu?" Pertanyaan itu terus mengganggu, bergema di kepala. Akhirnya, saya memutuskan untuk berhenti. Benar-benar berhenti sejenak.
Saya mulai menulis catatan kecil. Kadang cuma dengar musik yang menenangkan, atau sekadar menghirup aroma khas tanah basah selepas hujan. Saya berlatih untuk tenang, tidak langsung panik, dan mengusir bayangan-bayangan buruk. Dari hal-hal sederhana itulah, ketenangan yang hilang itu perlahan kembali. Saya sadar, nilai diri ini tidak ditentukan oleh apa yang kita raih, tapi oleh keberadaan kita sendiri. Begitu saja.
Artikel Terkait
Megawati: Kekuasaan Bukan untuk Mendominasi, Tapi Merawat
Saksi Ungkap Rasa Takut yang Paksa Mundur dari Proyek Chromebook Kemendikbud
Lautan Bunga Berduka untuk Istri Hoegeng, dari Presiden hingga Mantan Kapolri
KPK Lacak Aset Tak Terlaporkan Ridwan Kamil, Diduga Terkait Kasus Iklan BJB