Setelah berhari-hari terputus, akses utama penghubung Bireuen dan Aceh Utara akhirnya pulih. Jembatan Bailey di lokasi Awe Geutah resmi berfungsi, menggantikan jembatan lama yang hanyut diterjang banjir bandang pekan lalu.
Bencana yang terjadi pada Kamis, 18 Desember itu, memang merusak parah. Tapi, upaya perbaikan tak butuh waktu lama. Kementerian PUPR bergerak cepat, berkolaborasi dengan personel TNI dari Kodam Iskandar Muda. Mereka bahu-membahu menyelesaikan jembatan darurat ini dalam hitungan hari.
Kini, struktur baja itu membentang di atas Sungai Peusangan. Suara kendaraan yang lalu-lalang sudah kembali terdengar, mengakhiri keterisolasian sejumlah wilayah.
Keberadaan jembatan ini bukan cuma soal konektivitas biasa. Di sisi lain, ini adalah urat nadi yang vital. Logistik bantuan untuk korban bencana, mulai dari makanan hingga obat-obatan, kini bisa dialirkan lebih lancar. Bagi warga, ini juga secercah harapan untuk memulai kembali aktivitas ekonomi yang sempat mandek total.
Pemulihan ekonomi daerah terdampak, meski masih panjang, setidaknya sudah bisa dimulai. Jembatan Bailey Awe Geutah menjadi bukti bahwa setelah bencana, yang tersisa bukan hanya kerusakan, tapi juga semangat untuk bangkit lebih cepat.
Artikel Terkait
Puncak Arus Balik Lebaran, Penumpang Bandara Tembus 583 Ribu Orang
BMKG Peringatkan Hujan Lebat Berpotensi Banjir dan Longsor di Sulsel Tiga Hari ke Depan
Kepala BAIS Letjen Yudi Abrimantyo Mundur, TNI Tegaskan Komitmen Penegakan Hukum
Pemerintah Siapkan WFH Satu Hari Seminggu untuk ASN, Tunggu Pengumuman Resmi Usai Lebaran