Satya Budaya Nalendra: Penghormatan bagi Para Penggagas dan Penjaga Kebudayaan
Jaya Suprana dalam Lanskap Pengabdian Kolektif
MURIANETWORK.COM Bukan cuma seremoni biasa. Penganugerahan Satya Budaya Nalendra itu lebih dari itu; ia adalah pernyataan nilai. Sebuah pengakuan bahwa kerja di ranah kebudayaan itu seringkali sunyi, butuh kesabaran panjang, dan tentu saja, keberanian moral yang tak sedikit. Momentum ini menghadirkan tujuh tokoh dengan latar belakang dan medan pengabdian yang berbeda-beda. Mereka adalah Jaya Suprana, Ary Ginanjar, Peter F. Gontha, Elvy Sukaesih, I Nyoman Wenten, Anhar Gonggong, dan Sunaryo Soetono.
Kalau kita lihat, ketujuh nama itu seperti mozaik yang mewakili keragaman wajah kebudayaan kita. Ada yang dari dunia pemikiran, seni, sejarah, sampai pengabdian sosial. Mereka punya caranya masing-masing, ya. Tapi benang merahnya sama: kesetiaan pada martabat manusia dan kebudayaan bangsa. Nah, dalam lanskap kolektif semacam inilah, posisi Jaya Suprana jadi punya makna yang unik. Ia sering muncul sebagai penggagas, pemantik kesadaran, dan pengajak berpikir kritis di ruang publik.
Memang, anugerah ini diberikan kepada tokoh-tokoh yang tak cuma melestarikan tradisi. Mereka adalah figur yang memimpin dengan nilai, menempatkan kebudayaan sebagai tanggung jawab moral bukan sekadar ekspresi estetika belaka. Coba kita runut satu per satu. Ada Ary Ginanjar dengan kerja nilai dan pembangunan karakternya. Lalu Peter F. Gontha yang punya peran strategis di dunia publik dan kebudayaan. Elvy Sukaesih, sang Ratu Dangdut, yang menjaga marwah seni musik kita. I Nyoman Wenten, maestro sekaligus pendidik seni. Anhar Gonggong, sejarawan yang merawat ingatan kolektif bangsa. Dan Sunaryo Soetono dengan dedikasi panjangnya di seni rupa. Semuanya saling melengkapi.
Di antara mereka, sosok Jaya Suprana memang sulit dikotak-kotakkan. Budayawan? Pemikir? Penulis? Orator? Ia adalah semua itu. Tapi mungkin yang lebih menonjol adalah perannya sebagai penggugah. Lewat tulisan, talkshow, pertunjukan, bahkan humor yang reflektif, ia menghidupkan kebudayaan sebagai ruang dialog. Bukan monumen mati yang cuma bisa dipandang.
Keistimewaannya, menurut saya, ada di keberaniannya memosisikan kebudayaan sebagai alat kritik. Ia ogah kalau budaya cuma jadi pelengkap kekuasaan. Justru sebaliknya, budaya harusnya berfungsi sebagai penyeimbang bahkan pengoreksi terhadap kemapanan dan kekuasaan. Pernah dalam suatu kesempatan ia bilang, budaya tanpa keberanian berpikir itu akan kehilangan rohnya. Titik.
Artikel Terkait
Durian Jadi Senjata Diplomasi: Bagaimana Buah Berduri Kuasai Pasar Tiongkok dan Pererat Hubungan ASEAN
Gempa 3,5 SR Guncang Karangasem, Getaran Terasa Sampai ke Dalam Rumah
Tabung Gas Meledak di Palembang, Dua Ibu Tewas Saat Siapkan Hidangan Ramadhan
Prabowo Masuk Dewan Perdamaian Trump: Jebakan atau Pengkhianatan Konstitusi?