Di Puncak Karier, Fitrah Akui: Keluarga adalah Kompas Moral Saya

- Kamis, 18 Desember 2025 | 06:06 WIB
Di Puncak Karier, Fitrah Akui: Keluarga adalah Kompas Moral Saya

Bertahun-tahun telah berlalu sejak badai itu. Luka di hati Fitrah perlahan mengering, tapi bekasnya tetap ada sebuah pengingat pahit tentang kesetiaan. Syakira dan Bang Jarwo? Mereka kini cuma bayangan kelam di masa lalu. Sementara Fitrah, dengan dukungan Bos Top dan Bu Chintya, plus restu dari Arine, justru melesat. Karirnya mencapai puncak: dia kini Pemimpin Redaksi Kabar Kilat. Impian banyak orang, akhirnya jadi kenyataan baginya.

Di suatu sore yang agak sakral, di sebuah aula penuh sesak dengan para tokoh pers, Fitrah berdiri. Dia baru saja menerima penghargaan ‘Jurnalisme Terbaik Tahun Ini’ dari Dewan Pers. Semua berkat kerja investigasinya yang membongkar kebobrokan sistemik, yang dampaknya luar biasa buat rakyat kecil.

Sorot lampu menyilaukan. Fitrah menyipitkan mata, lalu menatap ke arah barisan depan. Di sana duduk Arine, dengan anggun seperti biasa. Di sebelahnya, Arjuna anaknya yang sudah remaja dan matanya tajam dan Kinara, si bungsu yang manis. Mereka memandangnya dengan bangga.

Mata Fitrah tiba-tiba berkaca-kaca. Aula megah itu jadi buram sejenak. Dia menarik napas panjang, mencoba menenangkan diri sebelum bicara. Suaranya masih terdengar getar saat kata-kata pertama keluar.

"Penghargaan ini," ujarnya, suaranya menggema di ruangan yang hening, "sebenarnya bukan cuma untuk saya."

Dia berhenti sejenak, mencari kata.

"Vox populi vox dei, suara rakyat adalah suara Tuhan, itu betul. Tapi malam ini, ini untuk pilar hidup saya. Untuk Arine, istri saya, yang mengajarkan saya arti kesabaran tanpa batas dan pengampunan yang tulus. Cintanya menyembuhkan luka yang dalam, lebih manjur dari obat apa pun."

Ruangan sunyi. Hanya terdengar isak tangis samar. Arine di kursinya tak bisa menahan air mata. Dia menggenggam erat tangan Arjuna, yang juga terlihat ikut terharu. Seakan baru sadar, drama keluarga bisa lebih mengharukan daripada skandal politik mana pun.

"Dulu, saya tersesat," lanjut Fitrah, suaranya kini lebih tegas namun penuh penyesalan. "Saya kejar ambisi, lupa hal yang paling berharga. Saya khianati kepercayaan. Tapi keluarga saya, mereka adalah rumah saya. Mereka kompas moral yang menarik saya kembali dari kegelapan."

"Tanpa Arine, tanpa tawa anak-anak saya, saya bukan apa-apa. Mungkin saya jurnalis yang berhasil mengungkap kebusukan di luar, tapi gagal total menjaga keindahan di dalam rumah sendiri."

Di akhir pidato, Fitrah membungkuk hormat ke arah keluarganya. Saat itulah, tepuk tangan bergemuruh memenuhi ruangan. Lama dan penuh rasa hormat.

Malam harinya, Fitrah kembali ke meja kerjanya. Aroma kertas dan tinta masih sama, tapi sekarang terasa hangat. Damai. Dia menatap lencana barunya, dengan perasaan lega yang belum pernah dirasakan sebelumnya.

Memang, tantangan baru pasti datang. Skandal lain pasti menunggu untuk dibongkar. Tapi Fitrah Nusantara sekarang paham. Selama keluarganya ada di sisinya, dia siap untuk babak apa pun, seberat apa pun. Karena pada akhirnya, integritas sejati itu berawal dan berakhir di rumah. Di dalam hati yang dicintai.

TAMAT

Editor: Yuliana Sari

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar