Bertahun-tahun telah berlalu sejak badai itu. Luka di hati Fitrah perlahan mengering, tapi bekasnya tetap ada sebuah pengingat pahit tentang kesetiaan. Syakira dan Bang Jarwo? Mereka kini cuma bayangan kelam di masa lalu. Sementara Fitrah, dengan dukungan Bos Top dan Bu Chintya, plus restu dari Arine, justru melesat. Karirnya mencapai puncak: dia kini Pemimpin Redaksi Kabar Kilat. Impian banyak orang, akhirnya jadi kenyataan baginya.
Di suatu sore yang agak sakral, di sebuah aula penuh sesak dengan para tokoh pers, Fitrah berdiri. Dia baru saja menerima penghargaan ‘Jurnalisme Terbaik Tahun Ini’ dari Dewan Pers. Semua berkat kerja investigasinya yang membongkar kebobrokan sistemik, yang dampaknya luar biasa buat rakyat kecil.
Sorot lampu menyilaukan. Fitrah menyipitkan mata, lalu menatap ke arah barisan depan. Di sana duduk Arine, dengan anggun seperti biasa. Di sebelahnya, Arjuna anaknya yang sudah remaja dan matanya tajam dan Kinara, si bungsu yang manis. Mereka memandangnya dengan bangga.
Mata Fitrah tiba-tiba berkaca-kaca. Aula megah itu jadi buram sejenak. Dia menarik napas panjang, mencoba menenangkan diri sebelum bicara. Suaranya masih terdengar getar saat kata-kata pertama keluar.
"Penghargaan ini," ujarnya, suaranya menggema di ruangan yang hening, "sebenarnya bukan cuma untuk saya."
Dia berhenti sejenak, mencari kata.
"Vox populi vox dei, suara rakyat adalah suara Tuhan, itu betul. Tapi malam ini, ini untuk pilar hidup saya. Untuk Arine, istri saya, yang mengajarkan saya arti kesabaran tanpa batas dan pengampunan yang tulus. Cintanya menyembuhkan luka yang dalam, lebih manjur dari obat apa pun."
Artikel Terkait
Bocor Rp155 Triliun, Devisa Negara Tersedot Ekspor Emas Ilegal
Anies Baswedan Ajak Pengawal Sipil Foto Bareng Saat Makan di Warung
Durian Jadi Senjata Diplomasi: Bagaimana Buah Berduri Kuasai Pasar Tiongkok dan Pererat Hubungan ASEAN
Gempa 3,5 SR Guncang Karangasem, Getaran Terasa Sampai ke Dalam Rumah