Bromo Terjepit: Ekonomi Menggeliat, Alam Mulai Merintih

- Kamis, 18 Desember 2025 | 01:30 WIB
Bromo Terjepit: Ekonomi Menggeliat, Alam Mulai Merintih

Gunung Bromo kembali ramai. Bahkan, sangat ramai. Data terbaru dari pengelola taman nasional menunjukkan, sepanjang tahun 2025 ini kunjungan wisatawan melonjak drastis, mencapai angka 30 hingga 40 persen lebih tinggi ketimbang tahun lalu. Hingga November, sudah hampir 600 ribu orang yang datang menyambangi kawasan vulkanik ikonis itu.

Menurut Rudijanta Tjahja Nugraha, Kepala Balai Besar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (BB-TNBTS), tren kenaikan ini sudah terlihat sejak pandemi mereda. "Pasca-Covid, tahun 2023 jumlahnya ada di kisaran 300 ribuan," ujarnya dalam sebuah sosialisasi di Malang, Rabu (17/12).

"Lalu naik jadi 400 ribuan lebih di 2024. Dan tahun ini, 2025, sudah hampir 600 ribu wisatawan yang datang ke Bromo."

Rudijanta menyebut, status Bromo sebagai destinasi prioritas nasional turut mendongkrak popularitasnya. Namun begitu, gelombang pengunjung ini punya dua sisi mata uang. Di satu sisi, perekonomian bergeliat. Di sisi lain, alam mulai merintih.

Dampak ekonomi terasa nyata, terutama dari bisnis persewaan jip. Bayangkan saja, tahun ini tercatat 164 ribu kendaraan roda empat masuk ke kawasan. Angka itu melonjak jauh dari tahun sebelumnya yang 'hanya' sekitar 64 ribu.

"Kalau yang menyewa jip minimal Rp600 ribu, maka sampai tahun ini uang yang beredar dari persewaan tersebut sudah lebih dari Rp100 miliar berdasarkan hitung-hitungan kami," papar Rudijanta.

Perputaran uang segitu besar itu, lanjutnya, terutama berputar di tiga kabupaten: Malang, Pasuruan, dan Lumajang. Aktivitas ekonomi ini otomatis mendongkrak Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP). Tahun 2024 lalu, dari 485 ribu lebih wisatawan, PNBP yang disetor ke negara mencapai Rp22,54 miliar. Tahun 2025 ini, angkanya diprediksi melesat hingga sekitar Rp50 miliar, sebagian karena ada penyesuaian harga tiket.

Tapi, cerita kemakmuran ini punya bayangan gelap. Alam Bromo mulai terbebani.

Rudijanta mengakui, ekosistem taman nasional mulai menunjukkan tanda-tanda degradasi. Lalu lintas jip yang sangat padat di kawasan Lautan Pasir memicu degradasi lahan, bahkan banjir. "Aktivitas jalur kendaraan di padang rumput, khususnya di sekitar Lembah Watangan, terpotong-potong seperti jaring laba-laba," tuturnya. Kondisi itu jelas mengganggu keseimbangan ekosistem.

Menyikapi hal ini, pengelola tak tinggal diam. Sebuah rencana penataan sedang digodok, yakni pembangunan Jalan Lingkar Kawasan Tengger (JLKT). Konsepnya bukan membangun jalan aspal, melainkan membuat jalur khusus dengan patok pembatas di kiri dan kanan, selebar 25 meter dan sepanjang 12,5 kilometer yang membentang di tiga kabupaten.

"Kami tidak membangun jalan, tetapi hanya memberikan batas," jelas Rudijanta. "Jalur ini hanya untuk kendaraan. Penunggang kuda dan pejalan kaki tidak termasuk."

Rencana ini, katanya, sudah didiskusikan dengan pelaku usaha dan masyarakat Tengger. Selain jalur khusus, akan dibangun tiga rest area di sekitar Savana Padang Rumput dan Lautan Pasir untuk parkir dan istirahat. Warung-warung yang bertebaran juga akan direlokasi ke sana, dengan bangunan yang disediakan taman nasional, lengkap dengan toilet dan fasilitas minimal lainnya.

Harapannya jelas: geliat ekonomi bisa terus berdenyut, tapi keramahan Bromo pada pengunjung tak lagi harus dibayar dengan kerusakan alam yang semakin parah.

Editor: Agus Setiawan

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar