Di sisi lain, modus operandi sindikat ini ternyata cukup rapi. Mereka bikin website yang tampak resmi, seolah-olah dikelola oleh dokter spesialis kandungan. Website itulah yang jadi umpan untuk menjaring korban.
"Masyarakat yang lihat website itu jadi percaya. Padahal, itu cuma kedok," kata Edy menerangkan.
Lokasi praktiknya pun tidak tetap. Sindikat ini kerap berpindah-pindah untuk mengelabui aparat. "Tempatnya mobile. Pernah di Bekasi, lalu di Jakarta Timur. Mungkin ada tempat lain lagi yang kami selidiki," ujarnya.
Biasanya, mereka cuma menyewa apartemen harian atau mingguan. Sewanya singkat saja, tergantung jumlah pasien yang harus ditangani. "Cuma satu atau dua hari, tidak lama. Setelah itu pindah lagi," pungkas Edy.
Untuk sekarang, fokus polisi adalah memanggil dan memeriksa seluruh nama yang terdata. Satu per satu.
Artikel Terkait
Bocah dengan Laptop Pecah Ditemukan Sendirian di Sleman
Dokumen Epstein Ungkap Transaksi Properti Trump dan Kaitan dengan Pengusaha Indonesia
Balong Cigugur Berduka: Ratusan Ikan Keramat Mati Mendadak
Red Notice Interpol Segera Terbit untuk Buronan Kasus Korupsi Chromebook