Kunci utamanya? Kerja sama. Mukhtarudin menekankan, keberhasilan program ini sangat bergantung pada kolaborasi lintas sektor.
"Kita akan bekerja sama dengan seluruh stakeholders, instrumen-instrumen negara, lembaga, instansi pemerintah di tingkat pusat maupun daerah, serta berkaitan juga dengan program-program kementerian," imbuhnya.
Di lapangan, salah satu strategi konkret yang digencarkan adalah memanfaatkan sekolah rakyat. Tempat itu akan dijadikan wadah untuk meningkatkan kualitas calon pekerja migran. Melalui pendekatan ini, diharapkan edukasi dan pelatihan vokasi yang diberikan benar-benar selaras dengan tuntutan pasar kerja global yang terus berubah.
Lalu, bagaimana dengan nasib pekerja setelah mereka berangkat? Menurut Mukhtarudin, aspek perlindungan dan pemberdayaan tak kalah penting. Ke depan, KemenP2MI berkomitmen memperkuat hal itu melalui sinergi yang lebih erat. Tidak hanya dengan kementerian lain dan pemerintah daerah, tapi juga melibatkan lembaga pelatihan serta perguruan tinggi.
"Ini yang harus kita fokuskan ke depan, dalam konteks penyiapan SDM, kemudian juga dalam konteks perlindungan dan pemberdayaannya. Jadi semuanya akan kita lakukan secara sistematis dan berkelanjutan," pungkasnya.
Pada akhirnya, program besar ini diharapkan memberi dampak ganda. Bukan cuma mengejar angka, tapi juga memastikan setiap pekerja terlindungi dengan baik sejak sebelum berangkat hingga pulang ke tanah air. Jika berjalan mulus, kontribusi mereka bisa menjadi motor penggerak pembangunan nasional yang berkelanjutan.
Artikel Terkait
Panen Raya Majalengka Capai 11,5 Ton per Hektare, Stok Beras Nasional Dipastikan Surplus
Dua Turis Asing Pembuat Konten Porno Viral Berjaket Ojol Digagalkan Kabur di Bandara Bali
Dua Pemudik Motor Terluka dalam Kecelakaan di Jalur Padat Cirebon
Polisi Ungkap Jaringan Konten Dewasa WNA di Bali, Pelaku Pakai Jaket Ojol untuk Viral