Raja Xerxes I Menghukum Lautan Usai Badai Hancurkan Jembatan Pasukannya

- Rabu, 18 Maret 2026 | 12:30 WIB
Raja Xerxes I Menghukum Lautan Usai Badai Hancurkan Jembatan Pasukannya
Kisah Sang Raja yang Mencambuk Lautan

Bayangkan saja: seorang raja perkasa, dengan seluruh wibawa dan kekuasaannya, memerintahkan pasukannya untuk menghukum lautan. Kedengarannya seperti dongeng, bukan? Tapi inilah yang benar-benar dilakukan oleh Xerxes I, Raja Persia. Amarahnya meledak setelah badai menghancurkan jembatan ponton yang dibangun dengan susah payah untuk pasukannya.

Xerxes berkuasa dari tahun 519 hingga 465 sebelum Masehi. Dia memimpin Kekaisaran Persia yang wilayahnya kini merupakan Iran modern dalam sebuah invasi besar-besaran ke Yunani. Kisah tentangnya tercatat dalam berbagai naskah kuno, termasuk di arsip Perpustakaan Kongres AS.

Nah, menurut buku 'Sejarah Xerxes yang Agung' karya Jacob Abbot, daerah yang dulu disebut Asia Kecil itu punya garis lintang mirip dengan New York. Tapi jangan salah, iklimnya jauh berbeda. Musim dingin yang ekstrem di puncak gunung sebenarnya jarang terjadi.

Memang, salju kadang turun di pegunungan. Es pun bisa membekukan aliran sungai yang tenang. Tapi bagi kebanyakan penduduk setempat, dunia utara yang beku dan dingin itu cuma cerita sebuah legenda liar yang disampaikan dari mulut ke mulut.

Meski begitu, mereka tetap mengenal periode angin kencang dan hujan yang menusuk tulang. Itulah yang mereka sebut musim dingin. Xerxes pun terpaksa menunggu musim buruk ini berlalu sebelum akhirnya menggerakkan pasukannya.

Namun begitu, nasib buruk ternyata belum sepenuhnya pergi. Saat sang raja berada di Sardis, badai dahsyat menerjang. Jembatan yang membentang di Hellespont selat sempit bersejarah pemisah Asia dan Eropa hancur berantakan. Kini, kita mengenal selat itu sebagai Selat Dardanella di Turki.

Dan inilah puncak kemarahannya. Laut yang dianggapnya memberontak itu harus dihukum. Maka, dicambuklah ombak itu, dan rantai pun dilemparkan ke air sebagai simbol penaklukan. Sebuah tindakan yang, bagi kita sekarang, mungkin terlihat lebih seperti luapan emosi seorang raja yang frustasi daripada strategi militer yang brilian.

Editor: Yuliana Sari

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar

Terpopuler