Keberangkatan mereka dari Filipina terjadi pada 28 November. Mereka naik penerbangan dengan nomor yang sama, PR212, dari Davao menuju Sydney via Manila. Itu terjadi beberapa minggu sebelum serangan mengerikan yang merenggut nyawa 15 orang.
Serangan hari Minggu itu sendiri tercatat sebagai penembakan massal terburuk di Australia dalam kurun hampir tiga dekade. Otoritas setempat sedang menyelidikinya sebagai aksi terorisme yang menyasar komunitas Yahudi.
Lantas, apa yang mereka lakukan selama hampir sebulan di Filipina? Pertanyaan itu masih menggantung. Belum jelas aktivitas mereka di sana, atau apakah mereka pergi ke lokasi lain setelah mendarat di Davao, kota besar di kawasan Mindanao itu. Informasi itu masih menjadi bagian dari penyelidikan yang lebih luas.
Artikel Terkait
Serangan Udara di Gaza Tewaskan 28 Warga, Seperempatnya Anak-anak
Drama dan Kebaikan di Balik Sesaknya Gerbong KRL
Polairud Buka Jalur Pelayaran Muara Angke yang Tersumbat
Prasetyo Bantah Isu Pertemuan Prabowo dengan Oposisi